oleh

10 Ciri Khas ‘Pegawai Penjilat’, Jangan Dilakuin Ya!

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, orang memang dituntut harus bekerja. Berbagai jenis pekerjaan dilakoni untuk mendapatkan sejumlah uang, seperti bertani, berdagang, jasa bengkel, jasa transportasi, guru, buruh, termasuk pegawai kantoran semisal pekerja bank, PNS, dan staf kantor dalam berbagai bidang usaha.

Ketika berinteraksi dengan rekan kerja, terutama di dalam kantor, akan selalu saja ada segelintir orang yang memiliki bakat menjadi seorang ‘penjilat’. Entah karena ingin mendapat perhatian lebih dan terlihat menonjol di antara rekan-rekan kerjanya, atau ingin mempromosikan dirinya agar mendapat jabatan yang lebih tinggi. Bahkan tak jarang mereka kerap melakukan aksi ‘cari muka’ kepada atasannya dengan berbagai cara.

Nah, berikut ini akan dibeberkan beberapa ciri-ciri pegawai penjilat atasan yang sering ditemui di kantor. Simak ya!

1. Terlihat rajin dan gesit saat ada atasan

Ilustrasi. (FOTO | https://www.realcommercial.com.au Via IDNTIMES.COM)

Saat ada atasan, mereka terlihat rajin dan gesit melakukan pekerjaan-pekerjaan kantor, meski pekerjaan itu tidak terlalu mendesak untuk diselesaikan. Namun, saat tak ada atasan, mereka akan bermalas-malasan dan menunda pekerjaan karena menganggap masih ada esok hari. Kata-kata andalan yang sering digunakannya: “yes”, atau “siap, Bos”, meski dalam hati kerap menggerutu dan mengeluh.

2. Tidak terlalu cerdas, tapi pandai memanfaatkan keterampilan rekan kerja

Ilustrasi. (FOTO | http://www.blueinsurance.ie Via IDNTIMES.COM)

Mereka biasanya bukan merupakan orang-orang cerdas dalam segi intelektualitas, namun pandai menutupinya dengan memanfaatkan keterampilan rekan kerjanya.

Saat ada perintah dari atasan, mereka menyanggupinya dengan semangat namun kerap melimpahkan pekerjaan tersebut kepada rekan kerjanya. Namanya akan tetap baik di mata atasan karena selalu menyelasaikan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu.

3. Proaktif membantu urusan pribadi bos, bukan urusan pekerjaan

Ilustrasi. (FOTO | http://vccsystem.eu Via IDNTIMES.COM)

Seorang pegawai penjilat biasanya akan lebih sering membantu urusan pribadi daripada urusan pekerjaan kantor. Tanpa diminta, mereka biasanya akan menawarkan diri membantu hal-hal kecil keperluan atasan, seperti membawakan koper, membuatkannya kopi, membereskan ruangan dan hal-hal semacamnya. Demi naik jabatan, mereka rela menjadi ‘jongos’ atasan.

4. Merasa paling sibuk, tapi tidak ada output pekerjaan yang berguna

Ilustrasi. (FOTO | https://www.buzzfeed.com Via IDNTIMES.COM)

Di dalam kantor, mereka akan terlihat paling sibuk di antara rekan-rekan kerjanya yang lain. Mereka sengaja menonjolkan diri agar terlihat baik di mata atasan.

Meski demikian, sama sekali tidak ada output pekerjaan yang berguna karena mereka biasanya melakukan pekerjaan remeh yang tidak terlalu penting karena pekerjaan penting selalu dilimpahkannya ke rekan kerjanya yang lain.

5. Menebar pencitraan dengan menceritakan kehebatan diri

Ilustrasi. (FOTO | http://www.techrepublic.com Via IDNTIMES.COM)

Gembar-gembor bercerita tentang kehebatan diri kepada para senior dan para atasan. Mereka kerap melakukan pencitraan sebaik-baiknya dengan menebar kisah tentang kehebatan dirinya sendiri. Entah berkisah tentang pendidikannya atau status sosial kehidupannya, atau bisa juga tentang pengalaman kerjanya selama bertahun-tahun di sebuah perusahaan tekemuka.

6. Gemar mengorek kesalahan orang lain lalu melaporkannya kepada atasan

Ilustrasi. (FOTO | http://minutehack.com Via IDNTIMES.COM)

Mereka biasanya gemar memainkan peran sebagai seorang detektif yang memata-matai rekan kerjanya sendiri. Ketika melihat ada rekan satu-dua orang rekan kerjanya yang duduk-duduk santai atau kebetulan sedang iseng membuka media sosial, si penjilat ini tidak segan-segan langsung melaporkannya.

7. Lebih memilih bergaul bersama senior daripada rekan seangkatan

Ilustrasi. (FOTO | http://www.healthcourses.com.au Via IDNTIMES.COM)

Mereka menganggap rekan kerja satu angkatan tidak selevel dengannya karena berbeda pengalaman dan pendidikan. Mereka lebih memilih berinteraksi dengan rekan-rekan senior dan orang-orang yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya, berharap agar bisa melakukan pendekatan untuk menunjang promosi jabatan ke depannya.

8. Membawa buah tangan khusus sehabis liburan

Ilustrasi. (FOTO | http://www.kuenya-najmina.com Via IDNTIMES.COM)

Setelah liburan, mereka biasanya membawakan oleh-oleh khusus untuk atasannya. Isi, bentuk, harga maupun nilai buah tangan tersebut biasanya lebih mahal jika dibandingkan buah tangan yang dibagi-bagikannya kepada beberapa rekan kerjanya yang lain. Berharap atasan akan menganggapnya sebagai orang yang memiliki nilai lebih dibandingkan pegawai yang lain.

9. Meremehkan dan merendahkan rekan kerjanya sendiri

Ilustrasi. (FOTO | http://blog.squarecirclehr.com Via IDNTIMES.COM)

Sudah pasti, karena merasa dekat dengan atasan, mereka biasanya pongah, merasa paling pintar sendiri dan tak jarang sering meremehkan dan merendahkan rekan-rekan kerjanya sendiri. Tingkat kesombongan seorang bawahan memang akan selalu berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan atasan kepada bawahan tersebut.

10. Sengaja mengulur waktu jam pulang

Ilustrasi. (FOTO | http://www.thefourhourworkday.com Via IDNTIMES.COM)

Prinsip yang mereka anut: ‘pantang pulang sebelum bos pulang’. Mereka tidak akan pulang cepat dan sengaja mengulur waktu jam pulang dengan melakukan pekerjaan remeh-temeh yang tidak terlalu penting jika atasannya masih berada di dalam kantor. Wah, atasan mana sih yang tidak kagum dengan pegawai yang rajin dan pulang paling akhir seperti ini?

Semua pegawai tentu saja ingin mendapatkan jabatan yang lebih baik dari sebelumnya, namun tentu saja harus melalui proses yang wajar dan prosedur yang semestinya. Kedudukan yang baik akan datang dengan sendirinya seiring dengan peningkatan kinerja kita di dalam kantor. []

(Sumber | IDNTIMES.COM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed