oleh

Ada Laporan ‘Kurang’ Sedap ke Anggota DPR Aceh

Banda Aceh-Sebanyak 29 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Aceh, mendapat Alat Pelindung Diri (APD) berupa baju anti infeksi dan masker bagi tenaga medis. Termasuk Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, yang merupakan rumah sakit rujukan penanganan Coronavirus Disease (COVID-19) di Aceh.

Bantuan APD tersebut datang dari Pemerintah Aceh dan Kementerian Kesehatan RI. Untuk RSUZA, Pemerintah membantu 50 set baju anti infeksi dan 10 ribu lembar masker. APD ini sebagaimana disampaikan Juru Bicara COVID-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani, dalam keterangan tertulis kepada Media Pers, Rabu (25/03/2020).

Nah, ditengah niat baik Pemerintah mendistribusikan APD kepada RSUZA, muncul laporan ‘kurang’ sedap ke Anggota DPR Aceh, Sulaiman, SE, yang tidak lain adalah Politisi Partai Aceh.

“Belakangan, banyak laporan bahwa pekerja medis terutama yang bertugas di RSUZA banyak membeli APD secara mandiri untuk keselamatan,” ungkap Sulaiman, Sabtu (29/03/2020), dalam keterangan tertulis di Banda Aceh.

Ia meminta agar pembagian Alat Pelindung Diri (APD) kepada petugas medis yang menangani pasien Covid-19 diharapan harus merata, terlebih kepada mareka yang bekerja di Rumah Sakit (RS) yang sudah ditetapkan sebagai Rumah Sakit rujukan oleh Pemerintah Aceh.

“Ada informasi saya terima, mareka (petugas medis) masih ada yang tidak dapat APD, ini-kan tidak fair, mareka dituntut bekerja maksimal, tetapi mereka tidak kita berikan kebutuhan medis, apalagi ini penyakit yang daya sebarnya begitu cepat,” katanya.

Anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh ini meminta kesiapan ke Pemerintah Aceh, khususnya Dinas Kesehatan dan Dirut RSUZA agar lebih ditingkatkan lagi. Apalagi jumlah Orang Dalam Pemantauan di Provinsi Aceh semakin meningkat, katanya.

Tak sekedar APD, insentif kepada dokter, perawat dan petugas lainnya yang terlibat dalam penangan Covid-19 di Aceh harus diperjelas oleh pihak eksekutif, sehingga semangat tim dalam bekerja akan terpacu.

Kemudian, Kepada direktur setiap Rumah Sakit (RS) yang telah ditetapkan sebagai RS Rujukan penanganan Covid-19 harus serius memerhatikan para bawahannya.

Artinya, kata Sulaiman lagi, jangan setelah nanti para awak medis bekerja dalam merawat pasien tersebut (Corona-red) berimbas kepada pribadi mareka. “Seperti diberikan media massa, seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang meninggal dalam perawatan di Respiratory Intensif Care Unit (RICU) Rumah Sakit Zainoel Abidin pada Senin, 23 Maret 2020 yang lalu sudah dinyatakan positif Covid-19,” kata Sulaiman.

Itu sebabnya, mantan Ketua DPRK Aceh Besar ini berharap para direktur RS yang menangani Covid-19 untuk segara menindaklanjuti. Terlebih kepada RSUZA Banda Aceh yang merupakan RS rujukan utama.

Berikutnya juga, sosialisasi terhadap pencegahan Covid-19 kepada masyarakat baik perkotaan maupun pedalaman harus maksimal. “Perlihatkan kepada semua masyarakat kita serius menangani Covid-19, sehingga kedepan masyarakat tidak menyalahkan kita yang ada dalam pemerintah,” katanya.

“Begitu juga sebaliknya, kalau kita tidak serius, jangan salahkan masyarakat ketika yang terkena Covid-19 mereka berobat dengan cara mereka sendiri, apakah ke dukun atau pun mereka akan mencari ‘orang pintar’ untuk bakar kemenyan, akibat mereka tidak mengetahuinya,” katanya lagi.

Kepada masyarakat Aceh juga ia berharap jangan menganggap remeh soal penyakit Coronavirus Disease (COVID-19), kepada seluruh masyarakat Aceh ia menghimbau agar mengindahkan semua intruksi pemerintah.

“Pemerintah juga tidak tinggal diam untuk memikirkan kompensasi kepada masyarakat yang berimbas akibat Covid-19,” tutupnya berharap. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed