oleh

Aplikasi Zoom dan Skype Jadi Target Serangan Siber

KASPERSKY menganalisis lanskap ancaman untuk aplikasi meeting seperti Zoom yang digunakan saat social distancing diterapkan selama pandemi Virus Corona terjadi.

Mereka mendeteksi adanya ancaman terkait dengan aplikasi terkenal serta menobatkan Skype sebagai platform yang banyak digunakan pelaku kejahatan siber.

Menurut pakar keamanan Kaspersky, Denis Parinov, sangat penting bagi orang mengetahui adanya ancaman. Apalagi saat aktivitas sebagian besar masyarakat dunia berada di rumah.

“Sangat penting untuk memastikan bahwa apa yang kita gunakan sebagai platform pertemuan sosial daring diunduh dari sumber sah dengan pengaturan tepat dan tidak memiliki kerentanan berat yang belum diatasi sebelumnya,” kata dia, Senin, 13 April 2020.

Denis juga menemukan sekitar 1.300 file yang menggunakan nama serupa dengan platform terkenal seperti Zoom, Webex dan Slack. Di antara jumlah tersebut, ia menemukan 200 ancaman dan ancaman yang paling umum adalah dua jenis adware, yaitu Dealply dan Downloadsponsor.

Dua jenis adware tersebut adalah installer atau pemasang yang menampilkan iklan atau mengunduh modul adware. “Software itu akan muncul pada perangkat setelah diundur dari pasar tidak resmi,” jelasnya.

Selain itu ada beberapa kasus yang disamarkan sebagai file .Ink, atau pintas ke aplikasi. Bahkan, Denis menemukan sebagian besar ditemukan sebagai Exploit.Win32.CVE-2010-2568, yakni kode berbahaya yang sudah ada lama namun masih tersebar luas, serta memungkinkan pelaku menginfeksi sejumlah komputer dengan malware tambahan.

Namun, aplikasi yang paling banyak digunakan pelaku kejahatan siber untuk melakukan kejahatan adalah Skype. Denis pun mengaku berhasil menemukan sebanyak 120 ribu file yang mencurigakan dan menggunakan nama aplikasi tersebut.

Bukan hanya adware, Skype digunakan untuk mendistribukan malware lainnya, terutama Trojan. Menurutnya, Skype sudah menjadi target para pelaku kejahatan siber selama bertahun-tahun. “Aplikasi Skype sudah menjadi target bagi para pelaku kejahatan siber selama bertahun-tahun karena popularitasnya,” tegas Denis. []

(Sumber | VIVA.CO.ID)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed