oleh

Bocah Yatim Menyambung Hidup di Antara Penderitaan Sang Ibunda

Laporan | Azhar Sigege

Belaian sang ibunda terhadap anaknya begitu berharga. Namun, kondisi ini harus terkubur dulu bagi Fadhilull Rahman, bocah lima tahun asal Gampong Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

Maklum, hari-hari ia harus menyambung hidup diantara penderitaan lumpuh yang dialami sang ibundanya, Fauziah selama setahun lalu. Fauziah juga telah ditinggalkan suaminya yang meninggal dunia tiga tahun lalu.

Fauziah, Ibunda Fadhilull Rahman, asal Gampong Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

Di usia yang hampir senja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang sulit, Fauziah, (50), seorang diri masih harus menghidupi kedua putrinya.

Sesekali, bocah itu mengantuk-ngantukkan kepalanya di lantai. Ia tidak berbicara seperti anak lainnya ketika menginginkan sesuatu, Ibunya hanya bisa melihat ketika anaknya meronta-ronta tanpa bisa memberi perolongan.

“Saya lumpuh setahun yang lalu, sementara suami saya sudah meninggal sejak tiga tahun belakangan,” kata Fauziah, saat media ini menyambanginya di kediamannya. Begitu kuatkah Fauziah menghadapi cobaan ini?

Selain Fadhilul Rahman, Fauziah juga harus membesarkan putrinya, Puja, yang kini menginjak di Sebuah SMK di Meulaboh, Aceh Barat. “Selama ini Puja yang merawat adiknya dan juga saya, ketika dia ke Sekolah saat pagi hari, saya hanya tinggal berdua dengan Fadhil,” kata Fauziah.

Lumpuh yang dideritanya, tidak membuat semangat Fauziah padam untuk membangun rumah. Ditengah kondisi sakit-sakitan, ia membangun rumah beratapkan rumbia berukuran 3 X 2,5 meter di atas tanah warga setempat, meski mereka menderita sakit dan dalam keadaan miskin.

Sayang bukan kepayang, janda yang sedang menderita lumpuh ini masih belum mendapat bantuan Pemerintah. “Belum ada yang menjenguk kami, saya terpaksa mengurungkan anak ini karena tak bisa menjaga, apa lagi saat kakaknya bersekolah,” ungkap Fauziah dengan nada setengah lirih.

Fauziah mengaku, menjadi Warga Gampong Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, sudah sangat lama, namun dia tak bisa mengingat secara detail.

“Sudah banyak lupa saya selama sakit” katanya sambil menunjukan Kartu Keluarga sebagai bukti Penduduk di Desa itu. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed