oleh

Cerita Warga Kota Banda Aceh Diterjang Banjir Dikala Subuh

banner 728x90

Laporan | Adi Tanjung

Afrizal (38), warga Lamlagang Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, baru saja menutup laptop mini dikamar tidur berukuran 3 x 3 meter. Jarum jam edisi Jum’at (08/05/2020), menunjukkan pukul 05.05 WIB.

Diluar rumah yang dikontrakkannya itu masih terdengar dengan jelas suara hujan. Maklum, dari malam hingga Subuh pagi itu hujan terus melanda Kota Banda Aceh tak kunjung reda.

Awalnya ia menganggap hanya hujan biasa dan tak terbayangkan banjir bakal melanda rumah yang ditumpanginya bersama isteri dan ketiga putera-puterinya itu.

Menemani dan membantu isteri membereskan peralatan dapur sisa makanan saur, menjadi khas suami Lindawati ini saat usai menggelar saur bersama keluarga.

Lindawati (37), isteri Afrizal baru saja beranjak dari dapur setelah membereskan piring cucian dan peralatan memasak bersama suaminya. Sesaat, Ibu Rumah Tangga (IRT) ini melangkah ke ruang tamu untuk melihat kondisi di luar rumah.

Luapan air hujan dalam rumah warga.

Wanita berkepala tiga ini-pun mengaku kaget ketika mengetahui bahwa di luar rumah sudah dipenuhi luapan air hujan. Ia pun memberitahukan hal itu kepada sang suami.

“Saat isteri saya membuka pintu depan (pintu masuk), air seperti sudah menumpuk dan dengan sekejap menyebar ke bagian dalam ruangan-ruangan rumah sampai ke dapur,” ucap Afrizal, saat di temui PENAPOST.ID.

Pria berdarah Woyla, Aceh Barat ini-pun nyaris gugup. Ternyata dengan seketika air terus menyambar ke ruang-ruangan kontrakannya itu.

Ia bersama isterinya itu lalu segera memindahkan barang-barang yang tidak boleh tersentuh air. Bayangkan, bukan sekedar membasahi lantai, luapan air hujan yang diperkirakan akibat tidak “beresnya” drainase di Kota Gemilang ini menjadi pemicu banjir di kawasan itu.

“Awalnya, saat kami menikmati saur, air belum masuk ke dalam rumah. Tapi baru Subuh, luapan air mulai mengepung rumah dengan ketinggian air sekitar 20-30 cm,” ucap Afrizal penuh kaget.

Luapan air hujan dalam rumah warga.

Ia lantas pernah mendengar dari penduduk disana, bahwa banjir besar telah melanda Kota Banda Aceh saat itu. Bahkan, di daerah dia domisili saat ini (Gampong Lamlagang), ketinggian air mencapai 2 meter lebih.

“Saat itu, menurut pengakuan warga disini bilang pernah terjadi banjir besar sekitar tahun 2000. Ketinggian air saat itu hampir menutup atap rumah, sehingga membuat warga harus mengungsi ketempat yang lebih aman,” katanya.

Nah, jika benar pernah terjadi banjir besar itu terjadi di Kota Banda Aceh, tentu saja Afrizal dan penduduk disana sangat tidak ingin peristiwa itu terulang kembali. Apalagi, saat ini Provinsi Aceh ditengah Pandemi Coronavirus Disease (COVID-19).

Ada segudang asa Afrizal kepada Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh, yaitu mencari solusi penanganan banjir, termasuk membereskan drainase di Kota ini. Sehingga, dapat meminimalisir terjadinya banjir.

“Tadi Subuh, ada tetangga yang berbaik hati memperbolehkan anak-anak tidur disana. Kan kasihan anak-anak yang masih balita terganggu tidurnya,” ucapnya lagi.

Menunggu dan berharap hujan reda. Itulah yang dilakukan Afrizal bersama keluarganya disana. Sementara, barang-barang miliknya sudah di pindahkan ke tempat yang dianggap aman dari gempuran luapan air hujan.

“Pemerintah harus bertindak untuk mencari tahu, apakah luapan air hujan ini karena drainase atau apa harus segera ada penanganannya,” tutup pria berdarah Woyla ini. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed