oleh

Dear Pak Plt Gubernur Aceh: Desa Sipoet Tak Ada Sinyal HP

Laporan-Azhar Sigege

Meulaboh-Kehidupan masyarakat di era digitalisasi ini, umumnya tidak bisa lepas dari gawai (gadget). Namun kondisi ini masih belum sepenuhnya dapat dirasakan warga di desa Sipoet, Kecamatan Sungaimas, Kabupaten Aceh Barat.

Ada banyak hal-hal baru yang ditemukan di pedalaman Kabupaten Aceh Barat ini. Misalnya, pemandangan alam di sana masih sangat asri. Rabu, 8 Januari 2020, PENAPOST.ID, mengunjungi Desa Sipoet di Kecamatan Sungaimas, Aceh Barat.

Perjalanan dimulai dari Kota Banda Aceh dengan menggunakan kendaraan roda dua menghabiskan waktu selama 4,7 jam dengan jarak tempuh sekitar 236 kilometer untuk tiba di pusat kota Meulaboh, Aceh Barat.

Nah, dari Kota Meulaboh tim bergerak menuju Desa Kuala Bhee, Kecamatan Woyla dengan menggunakan kendaraan roda dua sekitar 90 Menit untuk tiba di Desa Payabaro, Kecamatan Woyla Timur.

Bukan perkara mudah untuk tiba di Desa Payabaro, sedikitnya ada beberapa kilometer yang harus dilewati dengan medan terjal yang menantang. Bukit-bukit yang belum teraspal (hanya berbatu kerikil) membuat cemas para pengendera.

Suasana Sore Hari di Sungai Desa Sipoet, Kecamatan Sungaimas, Kabupaten Aceh Barat. (FOTO | DOK. PENAPOST.ID)

Tiba di Desa Payabaro, sebuah rakit mini yang hanya menampung beberapa kendaraan dan penumpang tampak jelas di seberang desa Sipoet. Dan, tibalah di desa yang dituju.

Beberapa warga tampak sedang mengutak-atik Handphone seluler. Awalnya, tim liputan melihat biasa-biasa saja. Namun baru beberapa meter berangkat dari sungai, Tim mencoba memainkan Handphone genggam yang ternyata sudah tidak terjangkau lagi sinyal.

Kemudian tim mencari tahu kepada warga terkait sinyal HP disana. Ternyata kondisi tersebut sudah berlangsung sangat lama dari tahun ke tahun sinyal HP sulit dijangkau warga di sana.

“Kalau mau dapat sinyal, pergilah ke sungai (tempat penyeberangan) yang menghubungkan antara desa Sipoet dengan desa Payabaro. Disana lumayan bisa untuk telfonan maupun internetan,” ucap salah seorang warga disana.

Benar saja, di pinggir sungai ternyata sudah ada sebuah bangunan sederhana yang terbuat dari papan seadanya.

Benar memang, desa Sipoet, bukanlah satu-satunya desa di Aceh yang belum terhubung dengan sinyal Handphone (HP). Akan tetapi desa yang dihuni sekitar 43 Kepala Keluarga (KK) ini menambah sederet desa di Aceh yang belum memperoleh sinyal seluler.

Desa lainnya yang senasib serupa dengan desa Sipoet seperti Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie. Meski belum memperoleh sinyal HP, desa ini mendapat perhatian serius Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah MT.

Menggunakan kendaraan moge, Nova Iriansyah menerobos desa Blang Pandak, untuk menghadiri kegiatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang difasilitasi oleh Dinas Sosial Provinsi Aceh.

Saat itu, Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud, menyampaikan warganya yang berdomisili di desa tersebut belum tersambung sinyal HP. Nah, mendengar keluhan ini, Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, langsung memerintahkan Kepala Dinas Komunikasi Informasi dan Persandian Aceh, Marwan Nusuf, untuk dapat memfasilitasinya.

“Saya akan segera bahas permasalahan ini. Beberapa skema juga akan kami tawarkan, misalnya, untuk pemangunan tower BTS akan ditanggung Pemerintah Aceh dan permasalahan jaringan dilakukan oleh operator seluler. Dinas Kominsa juga harus bergerak cepat untuk menghubungi pihak terkait. Insya Allah, saya usahakan dalam waktu 6 bulan sudah ada jaringan komunikasi di Blang Pandak. Ini bukan janji tapi saya akan usahakan,” ujar Nova Iriansyah.

Untuk mendukung langkah tersebut, Plt Gubernur juga mengimbau agar Pemkab Pidie segera menyelesaikan proses administrasi yang dibutuhkan.

Harus diakui pula bahwa telepon genggam menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Sebab, hampir tidak ada rutinitas masyarakat yang tidak bersentuhan dengan alat teknologi ini.

Nah, bagaimana dengan Desa Sipoet, Kecamatan Sungaimas, Aceh Barat ini. Akankah bernasib serupa dengan Desa Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie? Ataukah tetap dibiarkan begitu saja! Hanya waktu yang bisa menjawab. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed