oleh

Era Modern, Perempuan Aceh Harus Berpendidikan dan Mandiri

Banda Aceh-Di era modern sudah seharusnya perempuan Aceh berpendidikan tinggi disertai dengan hidup yang lebih mandiri. Hal itu sejalan dengan penghayatan hidup Pahlawan Perempuan Nasional Cut Nyak Dhien dan Laksamana Malahayati yang cerdas dan tegar.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh, Dyah Erti Idawati, dalam live talkshow Aceh berdikari 2.0 perjalanan perempuan tanah rencong yang mengusung tema ‘wanita dan sudut pandang tentang masa depan’ di Anjong Mon Mata, Selasa (22/12/2020).

Kegiatan tersebut turut mengundang sejumlah narasumber yang juga penerima sayembara Aceh berdikari I, Kamila Bilqis owner Gometri Official, dan Rina owner Rengginang Tamija, penerima Sayembara Aceh berdikari 2.0.

Dyah mengatakan, pendidikan kuat berkolerasi dengan kemandirian hidup seorang anak khususnya perempuan, oleh sebab itu, peran seorang ibu sebagai guru pertamanya sangat penting dalam membentuk tingkat kemandirian seorang anak, sehingga ia mampu tumbuh dengan mentalitas yang kuat dan hidup secara mandiri dilingkungan yang keras.

“Sebagai Ketua PKK Aceh, saya selalu menekankan kepada ibu-ibu di gampong agar memberikan pemahaman kepada anak perempuannya untuk terus belajar hingga pendidikan tinggi dan hidup mandiri. Karena hidup akan sulit jika hanya mengandalkan orang lain,” ujar Dyah.

Ia mengatakan, di era modern seperti saat ini perempuan juga harus mampu memiliki karir atau pendapatan yang cukup menjamin bagi diri sendiri. Selain untuk pemenuhan kebutuhan diri tapi juga mampu menopang perekonomian keluarga sehingga tidak hanya mengandalkan gaji dari pada orang tua atau suami.

“Kita tidak tahu hidup kedepan, hidup akan kewalahan jika hanya mengandalkan gaji suami, apalagi jika terjadi sesuatu pada suami kita setidaknya kita tidak akan lebih siap menghadapi kesulitan ekonomi kedepan,” katanya.

Maka itu, ia sangat mengapresiasi perempuan Aceh yang berhasil lolos dalam Sayembara Aceh Berdikari 1 dan 2. Ia mengatakan, ini bukan sekedar bantuan tapi semua ini tentang semangat pejuang dan sikap pantang menyerah dalam meraih mimpi.

“Inilah karakter Aceh keras, kuat, dan pantang menyerah. Merefleksikan perjuangan Laksamana Malahayati yang memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal Belanda,” katanya lagi.

Pemilik dari Gometri Official, Kamila Bilqis mengaku sangat berterima kasih atas bantuan tersebut. Bantuan tersebut, kata Bilqis, telah gunakan untuk menyelesaikan persoalan adminitrasi usaha jasa interior yang sedang ia kembangkan saat ini.

Ia menyampaikan, usahanya tersebut lahir dari keresahannya terhadap kerasnya lapangan pekerjaan di Aceh, pascawisuda dari Fakultas Teknik Unsyiah, jurusan Arsitektur, ia beserta temannya membuka usaha di bidang jasa interior.

“Saya merasa resah setelah kuliah enggak tahu ke mana dan bekerja di mana, karena banyak saingan. Dari situlah kami mulai menyusun dan berupaya bagaimana caranya bertahan di tengah persaingan, dan kami sebagai anak muda juga ingin menunjukkan potensi-potensi kami sebagai anak muda apa yang bisa kami lakukan,” ujarnya.

Ia mengingatkan, kepada pemuda Aceh agar terus berkarya dan terus belajar. “Belajar tidak harus dari buku, kita bisa belajar dari lingkungan dan bahkan film. Yang terpenting kenali dirimu sendiri dan potensi apa yang kamu miliki untuk kamu kembangkan.”

Live talkshow Aceh Berdikari 2.0 tersebut, dilaksanakan dengan tertib menerapkan protokol kesehatan, yakni mewajibkan setiap tamu undangan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, sebagai upaya mencegah penularan COVID-19. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed