oleh

[FEATURE] Jangan Lengah, COVID-19 Nyata Adanya

“Apa yang pernah saya alami ini, jangan sampai orang lain ikut mengalaminya. Sebab kalau sudah terpapar butuh perjuangan untuk sembuh,” ungkap E yang positif terpapar COVID-19 dan menjalani isolasi di rumah sakit selama 22 hari.

Kepada PENAPOST.ID, Jumat (6/11) bapak satu anak ini menuturkan pengalamannya dari awal mengalami gejala, harus menjalani perawatan dan isolasi di rumah sakit hingga tanda-tanda kesembuhannya.

Awalnya memang bukan dirinya yang positif Covid-19, tapi istrinya. Dua hari setelah istri dinyatakan positif, E mengalami demam dan batuk ringan. “Karena istri positif, saya langsung ke rumah sakit untuk Swab. Ternyata saya juga positif COVID-19,” kisahnya.

Setelah dinyatakan positif COVID-19 pada 29 September 2020, ia langsung di CT Scan dan di cek darahnya. Hasilnya paru-paru warga Kota Lhokseumawe ini, terdapat banyak vlek dan hasil laboratorium juga menyebutkan ada DBD.

Tak menunggu waktu lama, E langsung di rawat diruang isolasi rumah sakit tersebut. Kata ia, meski ditempatkan diruang isolasi tapi perawat selalu ada dan siap kapan saja dibutuhkan.

“Empat hari pertama kondisi saya masih biasa-biasa saja, saya rutin tiap pagi berjemur. Tapi hari ke lima kondisi saya mulai drop, saturasi oksigen saya sudah menurun di bawah 90. Sehingga saya diharuskan menggunakan oksigen,” ujarnya.

Antara Sadar dan Tidak
Disisi lain, hasil laboratorium menunjukkan darahnya mengalami kekentalan, sehingga lebih kurang tujuh malam harus disuntik untuk mengencerkan darah.

“Disitulah masa-masa sulit yang saya lalui. Ke kamar mandi harus menggunakan oksigen. Syukur ada perawat yang selalu standby walaupun dengan alat pelindung diri (APD) yang lengkap,” cetusnya.

Ia mengisahkan lebih kurang empat hari dirinya betul-betul antara sadar dengan tidak dan sulit untuk tidur. “Saya dengar suara azan, tetapi saya tidak tahu apa itu shalat subuh atau magrib,” terangnya.

E tidak lengah, terus memompa semangat dan memperbanyak istigfar dan shalawat. “Saya selalu menanamkan keyakinan, Insha Allah saya masih bisa berkumpul dengan keluarga. Alhamdulillah, masa-masa kritis itu bisa saya dilalui,” akunya.

Selama masa kritis, perawat yang bertugas menangani dirinya sempat bercerita kepadanya. Mereka mengatakan takut dan khawatir melihat kondisi dirinya kritis empat hari itu. “Sekarang lega rasanya, bapak sudah bicara lagi,” ungkap E mengutip ungkapan petugas yang merawatnya.

Belum Ada Perubahan
Di hari ke tujuh diruang isolasi rumah sakit Bunda Thamrin, Medan, Sumatera Utara, E masih menggunakan oksigen. Namun kondisinya sudah stabil, dan darahnya juga sudah lebih baik, sehingga oksigennya pelan-pelan dikurangi.

Minggu kedua, ia kembali di CT Scan dan di Swab. Hasilnya masih positif dan paru-parunya masih belum menunjukkan perbaikan. “Saya sempat lemas, sementara istri saya seminggu sudah pulang. Tapi akhirnya saya positif thinking, saya harus bersabar,” ujar alumni Fakultas Ekonomi Unsyiah Banda Aceh ini.

Meski sedikit menegangkan, E tetap menjalani rutinitas di rumah sakit tempat ia menjalani perawatan. Setiap enam jam sekali dilakukan pengecekan suhu tubuh, tensi darah dan lainnya. Termasuk minum obat yang lumayan banyak, di infus dan suntikan vitamin.

“Tapi itu semua demi kesembuhan, saya ikhlas menjalaninya dan syukurnya tanda-tanda kesembuhan saya mulai terlihat di hari ke 17. Oksigen mulai dilepaskan tapi saturasi tetap dipantau. Tapi saya bertekad dan terus berdoa untuk tidak lagi memakai oksigen,” tambahnya.

Ia kembali di Swab dan CT Scan yang ke tiga dan hasilnya masih positif. Belum ada perbaikan di paru-paru. Ia harus bersabar lagi. Tapi paling tidak sudah tidak lagi menggunakan oksigen, meski masih berat saat ia bernafas.

“Alhamdulillah, hari ke 19 saya kembali di CT Scan dan hasilnya ada perbaikan. Pada 20 Oktober 2020 saya kembali di Swab untuk yang ke empat kalinya dan hasilnya negatif sehingga saya dibolehkan pulang,” tutur tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi di Kota Lhokseumawe ini.

Dari apa yang dialaminya dan hingga harus menjalani isolasi di rumah sakit, E berharap semua kita untuk patuh dan menjalankan protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan, jaga jarak dan hindari kerumunan di masa pandemi Coronavirus Disesae 2019 (COVID-19).

“Menjaga jarak karena kita tidak pernah tahu siapa, atau kapan virus itu akan memaparkan kita atau orang lain. Terus jaga imun tubuh dengan memgkonsumsi multivitamin,” harapnya.

Bagi yang dalam perawatan, tetaplah semangat, semua bisa dilewati. Selalu berdoa, isilah waktu anda dengan istigfar dan mendekatkan diri kepada Allah, Insha Allah semua bisa kita lewati,” pintanya.

Dipercaya atau tidak, E sendiri mengakui kalau virus corona (COVID-19) ini nyata adanya. “Jadi jangan lengah, jalankan protokol kesehatan sebagai kebiasaan baru agar terhindar dari virus corona itu,” ucapnya. []

(Editor     | Muhammad Zairin)
(Laporan | Muhammad Zairin)

Advertisement

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed