oleh

Haji Nanda Tinjau Produksi APD Karya Siswa SMK untuk Tim Medis

banner 728x90

Banda Aceh-Haji Nanda, begitu sapaan akrab Kepala Dinas Pendidikan Aceh, H. Rachmat Fitri HD. Rabu (01/04/2020) tadi, ia meninjau langsung produksi Alat Pelindung Diri (APD) berupa Face Shield Mask (Pelindung Wajah) karya pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Banda Aceh.

Disana, Rachmat Fitri tidak sendiri. Ia di dampingi Kepala Bidang Pembinaan SMK, Teuku Miftahuddin dan Kepala UPTD Balai Tekkomdik Aceh, Teuku Fariyal.

Tak dapat dipungkiri memang, Alat Pelindung Diri (APD) begitu dibutuhkan tim medis yang bertugas di garda terdepan dalam memerangi Coronavirus Disease atau COVID-19. Itu tadi, setidaknya pelajar SMK telah berkontribusi kebutuhan APD berupa pelindung wajah.

Sekedar diketahui, hingga Rabu (01/04/2020) Pukul 15.00 WIB tadi, berdasarkan surveilens Posko Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 dari 23 Kabupaten/Kota di Aceh.

Jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) tercatat sebanyak 893 kasus. Artinya, ada penambahan ODP sebanyak 96 kasus dibandingkan catatan kemarin, yang masih 797 kasus.

ODP Aceh yang sebanyak 893 kasus tersebut, 162 kasus sudah selesai masa pemantauannya, dan 731 kasus lainnya masih proses pemantauan. Sedangkan jumlah Pasien dalam Pengawasan (PDP), sebanyak 45 kasus. Ada penambahan satu kasus dibandingkan data kemarin, 44 kasus.

Jumlah PDP dalam perawatan saat ini sebanyak 9 kasus. Mereka ada yang dirawat di rumah sakit rujukan RSUD dr Zainoel Abidan Banda Aceh, dan ada yang dirawat di rumah sakit rujukan kabupaten/kota.

Jumlah PDP yang telah konfirmasi sebagai PDP Positif Covid-19 sebanyak 5 kasus, yakni 4 kasus PDP Positif di rawat oleh Tim Medis Respiratory Instensive Care Unit (RICU) RSUZA, dan satu kasus meninggal dunia.

Rachmat Fitri mengatakan APD pelindung wajah yang diproduksi pelajar SMK tersebut sebagai langkah kreatif peserta didik di sekolah itu. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian para pelajar SMK Negeri 2 Banda Aceh dalam membantu mencegah penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19), di Kota Banda Aceh.

Face Shield Mask (Pelindung Wajah) diproduksi sendiri oleh pelajar di sekolah tersebut untuk dapat dipergunakan oleh tenaga medis yang bekerja di Rumah Sakit.

Rachmat Fitri mengakui saat ini pelindung wajah (Face Shield Mask) sangat dibutuhkan untuk melindungi tenaga medis agar terhindar dari virus yang ditularkan melalui cipratan batuk dan bersin dari pasien pada saat mereka bekerja.

“Face Shield Mask ini merupakan salah satu perangkat APD (Alat Pelindung Diri) yang selalu digunakan tenaga medis saat menangani pasien yang terduga atau sudah terpapar Covid-19 atau Virus Corona,” ujarnya.

Kadisdik Aceh mengapresiasi langkah pihak sekolah yang terus mengembangkan potensinya untuk menciptakan alat yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini. Pihaknya meminta agar bahan yang digunakan dapat memenuhi standar yang sudah ditetapkan pemerintah atau speknya sama dengan Face Shield Mask yang digunakan oleh tenaga medis di rumah sakit.

“Kita akan terus mendukung upaya yang dilakukan oleh para guru dan siswa ini, sehingga akan bermanfaat bagi seluruh masyarakat Aceh. Para guru dan pelajar di SMK harus peka melihat kebutuhan masyarakat atau dunia usaha, dengan ini maka SMKN 2 Banda Aceh sudah menuju kearah itu,” ungkap kadisdik.

Rachmat Fitri meminta agar para guru dan anak didik yang berada di SMKN 2 Banda Aceh untuk dapat terus berinovasi dan berimajinasi dalam menciptakan alat atau bahan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan pasar saat ini.

“Selain pelindung wajah, disini kita juga sudah membuat alat-alat permesinan kendaraan, plakat, pengelasan baja dan besi, dan lain-lain yang sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.

Kepala SMK Negeri 2 Banda Aceh, Muhammad Husin mengatakan, paska ancaman COVID-19 mewabah di Indonesia dan pemerintah bersama sejumlah komponen masyarakat melakukan upaya dalam memutus mata rantai penyebaran virus, membuat pihaknya terketuk untuk memberikan kontribusi.

“Setelah membaca di berbagai media bahwa tenaga medis khususnya di Aceh kekurangan APD dalam menangani Covid-19, akhirnya kami terpikir untuk membuat Face Shield Mask ini,” terangnya.

Menurutnya, APD pelindung wajah buatan pihaknya sudah memenuhi standar medis yang ditetapkan. Mulai dari desain, ukuran dan bahan-bahannya sudah merujuk pada standar pembuatan Face Shield Mask.

“Kami membuat alat pelindung diri di bengkel sekolah, karena kami sudah memilliki mesin print tiga dimensi untuk mencetak plastik mika. Jadi, untuk membuat alat APD ini sudah tersedia mesinnya, tinggal membeli bahan-bahannya saja,” ujarnya.

Ia menambahkan setelah hampir sebulan beroperasi, alat tersebut sudah mampu membuat sekitar 30 hingga 40 unit masker pelindung diri. Dengan durasi pembuatan satu maskernya berkisar 2 hingga 3 jam kerja.

“Kalau seandainya hasil produk siswa kami masih terdapat kekurangan, kami siap untuk memperbaiki. Intinya kami ingin memberikan kontribusi dengan menyumbangkan pemikiran dan alat APD yang berguna untuk penanganan Covid-19 di Aceh,” katanya.

Meski demikian, Husin mengatakan, apabila pelindung wajah buatan siswanya dibutuhkan dan dinilai sudah memenuhi standar medis, pihaknya belum siap memproduksi dalam jumlah banyak dikarenakan alat yang dimiliki pihaknya hanya mesin print tiga dimensi yang biasa digunakan sebagai contoh alat yang akan diproduksi untuk jumlah banyak. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed