oleh

Ikan Cupang Si Primadona ‘Pengantar’ Rezeki di Masa Pandemi

PUNDI-pundi rupiah terus mengalir kepada keluarga Musliadi (35), warga Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, dari bisnis Ikan Cupang, meski di tengah Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Ikan Cupang adalah ikan air tawar yang habitat asalnya dari berbagai negara di Asia Tenggara, antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Vietnam.

Di kalangan penggemar, ikan Cupang umumnya terbagi atas tiga golongan, yaitu cupang hias, cupang aduan, dan cupang liar.

Cupang, seperti halnya tren yang serba baru di tengah Pandemi COVID-19, menjadi transformasi peluang bisnis yang menggiurkan.

Dimasa Pandemi COVID-19, Adi masih menjadi laki-laki beruntung atas usaha berjualan Ikan Cupang tidak gulung tikar.

Bisnis Ikan Cupang ini setidaknya menjadi primadona pengantar rezeki bagi keluarga kecilnya itu. Saban hari (kecuali hari Minggu) ia bersama becak motornya menggiling aspal hitam menuju Taman Kota yang bersebelahan dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Deru becak motor Adi membelah suasana keramaian tengah Kota Banda Aceh yang lalu lalang dengan berbagai aktivitas warga lainnya.

Selembar masker membaluti mulut dan hidung pembudidaya Ikan Cupang itu. Ini sesuai anjuran Pemerintah yang mewajibkan seluruh masyarakat Indonesia untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

Jarum jam edisi Kamis (26/11/2020) mengarah pukul 14.30 WIB, setiap hari, kecuali Minggu, ia rutin mangkal bersama becak motor yang berjejer botol berisi ikan cupang hias di taman kota, sebelah kompleks Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

“Saya rutin mangkal di tempat ini,” ungkap Adi, Kamis (26/11/2020). Sambil memperbaiki posisi masker yang dipakainya, ia mengaku saat pandemi pun tetap berjualan dilokasi itu.

Awalnya, ayah dua putri ini, istrinya pernah mengingatkan untuk tidak berjualan saat lockdown diberlakukan Pemko Banda Aceh di awal munculnya kasus COVID-19 di Aceh. Karena istrinya khawatir terkena sangsi atau hukuman denda lainnya.

“Ya harus bagaimana lagi, saya perlu biaya untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar Adi. Selain itu, stok ikan cupang dirumah kontrakan yang ditempatinya pun akan terus menumpuk bila tidak terjual.

Stabil
Disela-sela melayani pembeli, Adi mengungkapkan dimasa pandemi ikan cupang yang terjual tidak jauh berbeda dengan sebelum pandemi. Hanya saja segmen pembelinya yang sedikit bergeser.

Sebelum pandemi banyak anak-anak sekolah yang menjadi langganannya bahkan anak-anak dari luar kota Banda Aceh yang berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman, ikut membeli ikan cupang ditempatnya.

Namun sejak pandemi COVID-19, anak-anak sekolah mulai berkurang. “Tapi ikan yang terjual masih stabil. Pasokan saya setiap minggu itu 2.000 hingga 3.000 ekor ikan dari berbagai jenis dan tetap habis terjual,” tutur Adi.

Untuk pasokan ikan cupang sebanyak itu, ia harus membayar sekitar tiga jutaan rupiah setiap pekan kepada pemasoknya. “Jadi kalau saya tidak berjualan, dari mana mendapatkan uang untuk membayar itu dan kebutuhan keluarga saya,” terangnya.

Ia mendapat pasokan cupang hias beragam jenis itu dari luar Aceh, terutama dari pulau Jawa. “Saya memang ada mencetak atau melakukan budi daya sendiri, tapi jumlah produksinya sangat sedikit sekali. Maklum saya tidak punya lahan yang cukup untuk budidaya ikan cupang ini,” tambahnya.

Soal harga jual ikan cupang hias ditempatnya, Adi mengaku hanya Rp.25.000 hingga Rp.50 ribu per ekor tergantung jenis. “Untuk ikan cupang jenis tertentu mungkin ada yang harganya lebih dari Rp.50.000, sesuai dengan harga tebus dari pemasoknya,” cetusnya.

Menurutnya, pecinta cupang hias sekarang ini tidak lagi untuk aduan atau laga. Tapi lebih kepada keindahan, warna, bentuk sirip dan lainnya. “Pembeli cupang untuk laga sudah berkurang, tapi mereka tertarik sisi keindahannya dan biasanya untuk kontes,” imbuhnya.

Apalagi di Banda Aceh sudah sering ada kontes ikan cupang. Tidak hanya diikuti pecinta cupang di Aceh tapi juga dari luar provinsi Aceh. “Saat pandemi seperti sekarang ini, orang kan banyak dirumah dan menatap keindahan cupang hias untuk melawan kejenuhan,” cetusnya.

Ikan cupang sekarang ini banyak jenis dan ragamnya. Hasil perkawinan silang menghasilkan warna dan bentuk sirip yang indah. Sehingga untuk jenis tertentu menjadi buruan pecinta cupang.

“Cupang biasa, yang biasanya untuk laga memang berkurang peminatnya. Tapi jenis plakat, fanci, giant, halfmoon, crown tail (ekor mahkota), double tail, slayer, cupang sisir masih banyak peminatnya. Dan yang pasti mereka akan memilih yang unik-unik dan khas,” tandasnya. []

(Editor     | Muhammad Zairin)
(Laporan | Muhammad Zairin)

Advertisement

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed