oleh

INGAT! COVID-19 Belum Berakhir, Warga Kota Diminta Tetap Lakukan Physical Distancing

Laporan | Hendra Sukmana

Banda Aceh-Ancaman Coronavirus Disease (COVID-19) di Kota Banda Aceh, belum berakhir. Itu sebabnya, warga di daerah itu untuk tetap menjaga jarak atau Physical Distancing untuk mencegah virus tersebut.

Hal itu disampaikan Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, di dampingi Dirut PDAM Tirta Daroy, Kota Banda Aceh, T Novrizal Aiyub, dalam Konferensi Pers, Rabu (08/04/2020), di Pendopo Wali Kota setempat.

“Kita bersama Forkapimda tetap terus berkoordinasi mencegah mewabahnya COVID-19. Dan, dicabutnya jam malam untuk memperbolehkan masyarakat membuka usahanya, bukan berarti saat ini Kota Banda Aceh sudah bebas dari COVID-19,” katanya.

“Physical Distancing atau jaga jarak, social distancing serta penggunaan masker harus terus dilakukan dalam masa agar terhindar dari wabah virus COVID-19,” katanya.

Karena, katanya lagi, meskipun Aceh berada di grafik 10 kategori sedikit COVID-19. Namun kondisi ini bukan berarti Aceh dan Kota Banda Aceh secara khusus sudah aman dari ancaman virus tersebut.

“Intinya, yang terpenting bagaimana kita bisa mempertahankan agar kota Banda Aceh tetap stabil dan aman dari wabah virus COVID-19. Kondisi ini harus bisa dipertahankan, jangan sampai nanti usaha masyarakat ditutup habis hingga tidak bisa berjualan selamanya, seperti diawal kondisi beberapa waktu yang lalu,” jelas Walikota.

Walikota menyebutkan berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, di kota Banda Aceh pasien positif COVID-19 sebanyak 2 orang. 1 orang sudah sembuh dan satu-nya lagi sedang dalam perawatan.

Sementara Orang Dalam Pengawasan (ODP) sebanyak 495. Diantaranya 228 telah selesai dilakukan dan 260 masih dalam pengawasan. Sebelumnya sebagaimana penerapan tersebut, sesuai anjuran WHO yang ditindaklanjuti Pemerintah Indonesia dalam mencegah dan memutuskan rantai penyebaran COVID-19.

Pemko telah mengeluarkan beberapa maklumat, pertama warga diminta untuk menggunakan masker agar terhindar dari COVID-19. Walikota mencontohkan negara jepang.

“Mereka jaga jarak, cuci tangan, dan menghindari kerumunan ( kegiatan social distancing/memutuskan mata rantai COVID-19,” sambungnya.

Untuk itu, katanya lagi, pihaknya bersama Forkapimda mengimbau agar warung-warung kopi membuka usahanya sesuai jadwal yang diberlakukan, yaitu dari pkl 05.30 WIB sampai 08.30 WIB hingga dilakukan pengawalan bersama.

Ia berharap masyarakat harus bersabar. Jangan sampai usahanya ditutup selamanya. Dan Walikota meminta agar masyarakat mematuhi segala maklumat yang telah ditetapkan demi kesehatan bersama.

Walikota mengatakan dalam waktu dekat akan memberikan bantuan terhadap masyarakat berupa sembako. Dan penyalurannya akan dilakukan sesuai mekanisme yang ada.

“Apa yang bisa kita bantu tetap kita lakukan. Seperti sebelumnya, bantuan yang diberikan terhadap kelompok distabilitas dan masyarakat yang kurang mampu”.

“Saat ini kita sedang mempersiapkan bantuan masker, sembako, dan kelengkapan APD serta bantuan alakadar lainnya. Dan Baitulmal juga sedang mempersiapkan bantuan untuk fakir miskin dan kaum uzur,” tambahnya.

Biaya Air Bersih bagi Rumah Ibadah
Sementara dalam sesi yang sama Walikota meminta Dirut PDAM Tirta Daroy, T Novrizal Aiyub, agar mengratiskan biaya tagihan memberikan pemotongan 50 persen biaya tagihan air bersih bagi pelanggan warga miskin, selama tiga bulan, terhitung sejak April hingga Juni 2020.

Selain itu, mengratiskan biaya tagihan air untuk seluruh mesjid, meunasah, dayah, pesantren dan mushala di Banda Aceh. “Dalam masa pencegahan dan mengantisipasi penyebaran Covid-19. Kita minta di gratiskan. Kecuali yang pembiayaannya dibebankan melalui anggaran APBK,” ujarnya.

Karena menurutnya sumber anggaran rumah ibadah dari sumbangan hamba Allah sangat minim karena berdambak COVID-19. Sementara sumber air bersih sangat dibutuhkan bagi warga muslim untuk beribadah.

Walikota mengatakan, dalam masa pencegahan corona virus desease 2019 atau Covid-19, telah menurunkan pendapatan masyarakat miskin. Begitu juga, sebutnya, sumber pendapatan masjid-masjid bergantung dari sumbangan dan sedekah.

“Tercatat keseluruhan rumah ibadah di kota Banda Aceh berjumlah 184,” sebut Ampon Yub===sapaan akrab Dirut PDAM Tirta Daroy, T Novrizal Aiyub. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed