oleh

Kala Kesadaran Pakai Masker Melemah di Musim Zona Oranye COVID-19 di Aceh

PROVINSI Aceh berada di kategori risiko sedang atau zona oranye, harus tetap patuh menjalankan Protokol Kesehatan (Protkes). Sebab jika tidak resiko penyebaran wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), kembali mengancam kesehatan masyarakat.

Pemerintah Pusat terus berusaha menekan angka penyebaran wabah COVID-19 di seluruh penjuru Tanah Air, tidak terkecuali Provinsi Aceh. Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.

Inpres yang diteken pada Selasa (04/08/2020) itu, salah satunya mengatur soal sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan. Sanksi tersebut wajib disusun dan ditetapkan dalam peraturan gubernur, bupati, atau wali kota sebagaimana tercantum dalam poin 6 huruf b.

Begitu juga dengan Pemerintah Aceh, berbagai upaya terus dilakukan untuk pengentasan wabah virus yang sebelumnya viral di Kota Wuhan, China itu. Baik kepada masyarakat, tenaga kesehatan hingga dunia pendidikan.

Kepala Pelaksana BPBA, Ir. Sunawardi, M.Si, pada penyerahan logistik Gerakan Masker Sekolah (GEMAS).

Sosialisasi tentang protokol kesehatan harus terus ditingkatkan. Langkah ini dinilai sangat penting, sebab pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tapi juga mengganggu sektor-sektor lainnya.

Karena itu, Pemerintah Aceh menjalankan banyak program mengantisipasi dampak virus ini. Seperti Gerakan Aceh Mandiri Pangan (GAMPANG), Gerakan Gebrak Masker Aceh (GEMA) dan Gerakan Nakes Cegah Covid-19 (GENCAR).

Kini, untuk proses belajar Tatap Muka (BTM) yang diwacanakan akan berlangsung Januari 2021, Pemerintah Aceh menggandeng Dinas Pendidikan, Kemenag Kabupaten/Kota dalam program Gerakan Masker Sekolah atau GEMAS.

Namun, siapa menduga. Provinsi Aceh yang saat ini berstatus Zona Oranye COVID-19, ternyata kesadaran masyarakat memakai masker justeru melemah tak terkendali. Ini setelah Kepala Pelaksana BPBA, Ir. Sunawardi, M.Si, melakukan perjalanan ke Kabupaten Bireuen dan Aceh Timur, melaksanakan program Gerakan Masker Sekolah atau GEMAS.

“Saya melihat maskernya jarang dipakai lagi untuk pencegahan COVID-19,” ujar Sunawardi, saat penyerahan logistik Gerakan Masker Sekolah (GEMAS) kepada Pemkab Aceh Tenggara, di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bambel, Selasa (1/12/2020).

Kalak BPBA Sunawardi, selaku Kepala Pusat Pengendalian Operasi Satgas COVID-19 di Aceh yang ditugaskan membagikan logistik GEMAS ke Aceh Tenggara, mengimbau Dinas Pendidikan Aceh Tenggara, Cabang Dinas Pendidikan Aceh Wilayah Aceh Tenggara, Kemenag Aceh Tenggara, para kepala sekolah dan guru di Aceh Tenggara, supaya tetap memakai masker, cuci tangan dan jaga jarak.

“Memutus mata rantai penyebaran COVID-19, tetap kita budayakan pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak dalam kehidupan kita sehari-sehari sehingga semua kita dapat terhindar dari pandemi Covid-19 yang belum berakhir ini,” ujarnya.

Menurutnya, WHO memprediksi pandemi ini akan berakhir pada tahun 2022 nanti. Karena itu, melalui Satgas COVID-19 Kabupaten Aceh Tenggara, ia meminta untuk memaksimalkan tracking dan tracing.

Saat ini, ungkapnya, laboratorium di kabupaten/kota sudah sanggup melakukan pemeriksaan dan hasilnya kurang dari 44 jam sudah bisa diketahui. Pemerintah Aceh sendiri sedang memperkuat empat laboratorium pemeriksaan Covid-19 di provinsi.

“Kita sudah tambah dua laboratorium di Kesdam IM dan Kesrem Lhokseumawe serta dua regional di Aceh Tengah dan Aceh Selatan yang didukung mobil kontainer. Setiap mobil kontainer bisa memeriksa sekitar 1.000 sample per harinya,” tuturnya.

Kalak BPBA ini berharap upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah Aceh itu dapat disinergikan dengan kabupaten/kota serta kepala sekolah dan guru di masing-masing sekolah yang menjadi ujung tombak terdepan menjaga sekolah. “Mari kita jaga bersama diri kita, keluarga kita, sekolah kita dan desa kita dari pandemi COVID-19,” pinta Sunawardi.

Tekan Dampak Covid-19
Dalam sambutannya mewakili Gubernur Aceh, Sunawardi mengatakan sosialisasi protokol kesehatan harus terus ditingkatkan. Langkah tersebut, katanya, sangat penting sebab pandemic COVID-19 tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tapi juga mengganggu sektor-sektor lainnya.

Itu sebabnya Pemerintah Aceh menjalankan banyak program guna mengantisipasi dampak virus ini. Seperti Gerakan Aceh Mandiri Pangan (GAMPANG) untuk mengantisipasi dampak Covid-19 terhadap ketersediaan bahan pangan di Aceh.

Lalu ada Gerakan Gebrak Masker Aceh (GEMA) yang tujuannya mensosialisasikan pentingnya penggunaan masker untuk melindungi masyarakat dari ancaman COVID-19. Selanjutnya Gerakan Nakes Cegah Covid-19 (GENCAR) yang fokus mendukung sistim kerja tenaga kesehatan dalam pemulihan dan penanganan pasien COVID-19.

“Alhamdulillah, semua gerakan ini telah memberi hasil, tentunya atas dukungan Bapak Bupati Aceh Tenggara, Kapolres, Dandim dan jajaran,” ujar Sunawardi seraya menyebut awal Desember ini, penambahan jumlah pasien positif Covid-19 di Aceh terus berkurang.

Meski demikian, tambahnya, kita semua tidak boleh berpuas diri. Terobosan baru harus di lakukan untuk bisa menekan dampak COVID-19 hingga ke titik terendah. Salah satu terobosan itu adalah menjalankan Gerakan Masker Sekolah (GEMAS).

Kegiatan ini menyasar dunia pendidikan, khususnya pelajar dan guru di seluruh Aceh. Apalagi direncanakan sistim belajar tatap muka akan dimulai pada Januari 2021 mendatang. GEMAS bertujuan untuk pembelajaran pencegahan Covid-19 melalui wali kelas dengan modul yang sama, dan praktek penggunaan masker kepada peserta didik oleh wali kelas, yang keduanya sudah dilakukan sosialisasi dan pembekalan pada 23-24 November 2020 kepada seluruh kepala sekolah dan guru, sebanyak tujuh angkatan melalui Vicon.

Program GEMAS ini akan menyasar 6.783 sekolah seluruh Aceh dan 39.389 rombongan belajar (rombel). Sedikitnya 117.712 guru dilibatkan dalam program ini untuk memastikan 1.081.174 peserta didik di Aceh selalu memakai masker dengan benar.

Terkait logistik masker yang diserahkan dalam program GEMAS sumbernya adalah 95 persen bantuan BNPB, dan lima persen dari Kementerian Kesehatan. Selain itu, spanduk dan brosur yang turut dibagikan merupakan donasi dari partisipasi SKPA dan mitra kerja (beberapa perusahaan).

Khusus untuk Kabupaten Aceh Tenggara, kata Kalak BPBA ini, sasaran program GEMAS, sesuai dengan data Dapodik dan Emis, yakni 352 sekolah, 55.048 siswa, 1.857 rombel, dan 4.644 guru.

Rinciannya, kewenangan kabupaten/kota 245 Sekolah (174 SD, dan 71 SMP), kewenangan Kemenag 62 Madrasah (26 MI, 17 MTs, dan 19 MA) serta kewenangan Pemerintah Aceh 45 sekolah (27 SMA, 16 SMK, dan 2 SLB).

Logistik GEMAS yang diserahkan ke Aceh Tenggara berupa masker kain 58.029 lembar untuk seluruh siswa dan wali kelas, masker medis 9.288 lembar untuk guru, brosur 62.681 lembar untuk siswa dan guru serta spanduk 352 lembar, setiap sekolah satu lembar.

Logistik GEMAS untuk Kabupaten Aceh Tenggara yang diserahkan Kalaksa BPBA Sunawardi secara simbolis itu, diterima Staf Ahli Bupati Aceh Tenggara, Drs. H. Jamanuddin. M.AP.

Sunawardi berharap dukungan lanjutan dari Bupati Aceh Tenggara untuk menyerahkan logistik GEMAS itu kepada para kepala sekolah, melalui Kadisdik, Kakankemenag dan Kepala Cabang Disdik Aceh Wilayah Aceh Tenggara.

Kepada seluruh Tim Satgas dan tenaga pendidik yang sejak persiapan (sosialisasi dan pembekalan) terlibat dalam kegiatan GEMAS ini, ia mengucapkan terima kasih, dan selamat bekerja.

“Jalankan misi ini dengan ikhas dan sepenuh hati. Terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada para donatur,” tutup Sunawardi. []

(Editor     | Muhammad Zairin)
(Laporan | Muhammad Zairin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed