Kemampuan Iran Bikin Bom Nuklir Dalam 12 Hari Bikin AS Ketar-ketir

Jakarta – Dalam dua tahun terakhir, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berusaha menghidupkan kembali kesepakatan nuklir dengan Iran atau yang dikenal dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Upaya getol Presiden Amerika Serikat itu pun dipertanyakan oleh DPR AS, House of Representative, karena sebelumnya AS memilih keluar dari kesepakatan tersebut pada 2018 saat dipimpin Donald Trump.

Apalagi, dalam dengar pendapat dengan Departemen Pertahanan terungkap fakta yang mengejutkan bahwa Iran kini disebut bisa menghasilkan satu bom nuklir dalam waktu 12 hari saja.

Hal itu diungkapkan oleh Colin Kahl, orang nomer 3 di Departemen Pertahanan AS. Menurut dia, Iran sudah membuat progres yang luar biasa sejak AS memilih keluar dari kesepakatan nuklir.

“Pada 2018, ketika pemerintahan sebelumnya memutuskan hal tersebut, Iran memerlukan waktu 12 bulan untuk menciptakan material fisik untuk satu bom. Kini mereka hanya memerlukan 12 hari,” kata Kahl di hadapan DPR AS sebagaimana dilansir Daily Mail, Kamis lalu (2/3/2023).

Menurut Kahl, menghidupkan kembali JCPOA saat ini merupakan opsi yang terbaik.

“Dan juga saya pikir ada pandangan jika kita bisa memecahkan masalah ini dengan diplomasi dan meredam program nuklir mereka, itu akan lebih bak ketimbang opsi lainnya. Tapi saat ini JPCOA sudah beku,” ujar Kahl.

Sementara itu, wakil asisten Menteri Pertahanan untuk wilayah Timur Tengah, Dana Stroul, mengatakan Iran saat ini bisa menjadi ‘ancaman global’ karena beraliansi dengan Rusia.

“Kita saat ini berada pada titik dimana Iran bukan hanya ancaman di Timur Tengah, tetapi juga dunia. Masuk akal jika memprediksi taktik, teknik dan prosedur yang Iran pelajari dari perang Ukraina suatu saat ini akan menimpa mitra kita di Timur Tengah,” kata Stroul.

Pertengahan September lalu, Presiden Iran Ebrahim Raisi dalam pertemuan Shanghai Cooperation Organization (SCO) mengatakan hubungan Tehran dan Moskow sangat strategis, dan ia berencana memperkuat hal itu di segala lini.

“Hubungan kami tidak biasa, sangat strategis. Iran berharap memperkuat hubungan dengan Rusia di semua aspek, politik, ekonomi, perdagangan dan wilayah udara. Hubungan Tehran-Moskow juga bisa menetralkan dampak sanksi yang diberikan Barat kepada kedua negara,” kata Raisi.

Tahun ini, Rusia dikabarkan juga akan menyuplai 24 pesawat tempur Sukhoi Su-35 ke Iran. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *