oleh

Ketika Angin Malam Itu Tak Lagi Mengancam Gubuk Reot Fatimah

Pidie-Puluhan tahun tinggal di rumah tak layak huni, para keluarga kurang mampu di beberapa Kabupaten di Aceh ini akhirnya bisa merasakan tinggal di rumah yang layak. Mereka bersyukur, berterimakasih kepada pemerintah Aceh.

Adalah Fatimah (52), warga Gampong Keupula, Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie. Ia adalah salah satu dari empat ribu lebih masyarakat Aceh yang tahun ini berhak mendapatkan rumah layak huni yang dibangun pemerintah melalui Dinas Perkim Aceh.

Kini-pun, angin malam yang sebelumnya saban hari silih berganti tak lagi mengancam gubuk reot keluarga janda yang sehari-hari berjualan sayur mayur di Peunayong Banda Aceh itu.

Atas bantuan yang diterima Fatimah, ia mengucap syukur tiada henti kepada Pemerintah Aceh. “Terima kasih pak gubernur. Alhamdulillah saya mendapatkan bantuan rumah,” kata nya dengan bola matanya sembab menahan haru.

Fatimah ditinggal suaminya yang meninggal dunia pada tahun 2012 lalu. Rumahnya semula adalah rumah yang bersekat dinding rumbia. Tiga anaknya sudah menikah, di rumah itulah mereka tinggal bersama sampai kemudian dua anaknya ikut suami ke Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Di rumah itu (rumah lama) semua kami tinggal. Semuanya empat keluarga,” kata Fatimah. Berbilang tahun Pemerintah Gampong Keupula kemudian membantu merehab rumah Fatimah. Dinding pelepah rumbia diganti dengan triplek.

Pemerintah Aceh lewat program Aceh Seuniya menerima data-data masyarakat yang menjadi penerima bantuan rumah yang satu di antaranya adalah Fatimah. Setelah diverifikasi, ia dinilai layak dan kepada dirinya dibangun satu unit rumah layak huni, rumah dengan tipe 36.

Maya, anak Fatimah mengucap syukur atas perhatian pemerintah. Kata dia, rumah itu adalah impian keluarga kecil mereka. “Alhamdulillah sudah mendapatkan rumah yang ada kamar mandi,” kata Maya. Tidak tersedianya kakus di rumah asal membuat mereka sekeluarga harus membuang hajat di kebun kosong.

Kini, Fatimah dan keluarganya tidak lagi merasakan dinginnya hembusan angin dari dinding yang tak lagi rapi dan utuh tempat berteduh untuk melepas rasa lelah menunggu pergantian malam bersama keluarganya, karena Pemerintah Aceh telah memberikan bantuan rumah layak huni kepada dirinya.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan. Kawasan Permukiman Aceh, T. Mirzuan, mengatakan tahun 2020 pemerintah Aceh membangun sebanyak 4.042 unit rumah layak huni kepada masyarakat kurang mampu di seluruh Aceh.

Program itu dipandang efektif mengurai kemiskinan dan memeratakan kesejahteraan bagi masyarakat. Karena itu pemerintah Aceh melalui Dinas Perkim kembali memprogramkan kegiatan serupa di tahun 2021, di mana pada tahun depan sebanyak 4.300 unit rumah akan kembali dibangun.

“Hari ini kami bersama Kepala Biro Humas dan Protokol datang mewakili Pak Plt Gubernur untuk menyerahkan secara simbolis kepada penerima di Pidie, Pidie Jaya dan Bireun,” kata Mirzuan.

Di Pidie, sebanyak 381 masyarakat mendapatkan rumah, di Pidie Jaya pembangunan dilaksanakan sebanyak 80 unit dan 460 penerima berada di Kabupaten Bireuen.

Mirzuan berharap masyarakat yang mendapatkan bantuan rumah tersebut bisa memanfaatkannya dengan baik. “Mereka tak harus memikirkan lagi pembangunan rumah, tinggal fokus cari rezeki buat keluarga,” kata dia.

“Alhamdulillah sekali. Terima kasih sudah memberikan tempat yang layak untuk kami,” kata Nuraini,” salah seorang penerima manfaat dari Gampong Musa Teungoh, Kecamatan Bandar Baru Pidie Jaya.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto, menyebutkan pembangunan rumah layak huni merupakan salah satu program prioritas pemerintah Aceh dengan tujuan menyejahterakan masyarakat dan pengentasan kemiskinan.

“Program Aceh Seuniya untuk memberikan tempat layak bagi masyarakat kurang mampu,” kata Iswanto. []

(Editor    | Muhammad Zairin)

(laporan | Afrizal)

Advertisement

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed