oleh

KPA Nagan Raya Temui Ketum ForTiL, Bahas Apa?

banner 728x90

Laporan | Azhar Sigege

Meulaboh-Wakil Panglima Wilayah Komite Peralihan Aceh (KPA) Nagan Raya, Jamaluddin menemui Ketua Umum Forum Tiga Wilayah (ForTiL), Akrim, Rabu, 18 Desember 2019 sore, di Kota Meulaboh, Aceh Barat.

Dalam pertemuan tersebut, Jamaluddin menyampaikan beberapa pesan kepada Ketua Umum Forum Tiga Wilayah (ForTiL), Akrim. Salah satunya lembaga tersebut tidak melakukan hal yang bertentangan dengan norma hukum.

“Nah, apabila mendapat pekerjaan jangan mengabaikan istri dan anak para syuhada serta korban konflik lainnya, karena dengan doa mereka perjuangan akan berjalan baik,” pesan Jamaluddin.

Ia meminta forum tiga wilayah itu untuk mencari pekerjaan pada perusahaan yang beroperasi di pantai barat baik perusahaan tambang maupun perusahaan kebun. Karena itu hak warga negara.

“Saya minta jangan hanya PLTU 3-4 jadi sasaran meminta kerja, pada perusahaan lain juga harus dibuat penawaran seperti PT. Mifa Bersaudara untuk angkutan batu bara,” pintanya.

Menurutnya, dengan adanya pekerjaan maka anggota forum tiga wilayah memiliki kesempatan untuk bekerja, ada pendapatan maka bisa hidup tenang mereka yang dominan mantan Tentara Nasional Aceh ( TNA). Dengan demikian damai Aceh bisa dijaga bersama, investasi bisa melakukan pembangunan di Aceh.

Dirinya juga mengapresiasi terbentuknya forum perjuangan ekonomi masyarakat yang tergabung tiga wilayah dari Pantai Barat Aceh dan siap membantu untuk pergerakan kedepan.

“Setelah mendengar niat, visi dan tujuan pembentukan forum tiga wilayah dari ketua umum, saya terharu dan siap membantu lembaga tersebut demi rakyat yang terabaikan di Pantai Barat Aceh ini,” katanya mengapresiasi.

Ketua Umum Forum Tiga Wilayah (ForTiL), Akrim berterimakasih kepada wakil panglima KPA Nagan Raya yang telah mendukung dan mengingatkan pihaknya agar senantiasa mengedepankan sikap rasional dalam melakukan aktivitas lembaga guna mencapai tujuan.

“Alasan forum Tiga Wilayah dibentuk, berdasarkan amatan beberapa organisasi, LSM dan ormas masih banyak perusahaan lokal bila mendapatkan suatu pekerjaan mesti diback up oleh pejabat,” tukasnya.

Menurutnya, hal itu itu sebenarnya penyebab investor luar yang ingin masuk ke wilayah Pantai Barat Aceh tidak perlu dukungan masyarakat, karena semua bisa di atur mulai dari pengusaha dan tenaga kerja.

“Dengan adanya kepercayaan masyarakat Tiga wilayah yang diwakilkan oleh beberapa organisasi, maka telah terbentuk sebuah forum keberatan masyarakat pencari kerja sepakat diberi nama Forum Tiga Wilayah,” tuturnya.

Ia menyebutkan, anggota dalam forum Tiga Wilayah ini didominasi korban politik pejabat, juga orang-orang eks kombatan yang terabaikan serta masyarakat korban penipuan pengusaha selama ini.

“Namun demikian, kami juga akan bijak kepada investor-investor luar yang telah menjalankan bisnis mereka baik yang baru beroperasi maupun telah lama. Alhamdulillah berawal dari pelabuhan calang Aceh jaya masyarakat yang tergabung dalam ForTiL asal Pantai Barat Aceh telah bekerja bukan meminta-minta, selama ini kesempatan saja tidak pernah ada,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kedepan ForTiL akan menjalankan program dan melihat setiap peluang yang ada demi kesejahteraan anggota dan akan merawat kekompakan agar tidak lagi menjadi barisan sakit hati seperti yang dialami selama ini. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed