oleh

Lembaga Wali Nanggroe Aceh Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

banner 728x90

Laporan | Azhari Usman

Banda Aceh-Lembaga Wali Nanggroe Aceh memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1441 Hijriah, Kamis 5 Desember 2019. Acara yang diisi dengan santunan anak yatim, tausiah dan khanduri ini berlangsung di Kompleks Meuligoe Wali Nanggroe, Aceh Besar.

Katibul Lembaga Wali Nanggroe Aceh Usman Umar, S.Sos menyebutkan bahwa Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini mengusung tema “Satukan Langkah Menuju Aceh Hebat dan Bermatabat”.

“Kita turut mengundang dua ribu tamu undangan , yang terdiri dari unsur Forkopimda Aceh, para Ulama Aceh, SKPA, Instansi Vertikal beserta masyarakat umum,” kata Usman melaporkan.

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haytar dalam sambutannya mengingatkan tentang pentingnya mempelajari sejarah, khususnya sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW.

“Mempelajari kembali sirah nabawiyah adalah mempelajari tentang perjalanan hidup Rasulullah SAW dalam mengenalkan aqidah islam dan membangun peradaban Islam seantero dunia, lebih dari 14 abad silam,” kata Wali Nanggroe.

Para tamu undangan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang dilaksanakan oleh Lembaga Wali Nanggroe Aceh.

Menyinggung soal perdamaian, Wali Nanggroe mengingatkan bahwa Aceh telah sepakat untuk merawat dan menjaga perdamaian. Oleh sebab itu tidak boleh ada pihak yang sengaja ataupun tidak, mencoba mengusik perdamaian Aceh.

Selama perdamaian itu masih berada pada jalurnya, tidak boleh ada satu kekuatan pun baik yang terkoordinir maupun tidak, yang berniat mengganggu proses perdamaian yang telah dijalani sejauh ini selama 14 tahun.

“Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan kita membenci sesama muslim hanya karena perbedaan suku, perbedaan bahasa, perbedaan pakaian yang dikenakan. Sebaliknya beliau mengajarkan bahwa sesama muslim itu bersaudara,” katanya.

Ia juga berpesan bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan umat untuk mendamaikan sesama muslim. Semangat tersebut telah memberi inspirasi kepada perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah Republik Indonesia, 15 agustus 2005 silam setelah konflik bersenjata 30 tahun lamanya.

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haytar, bersama tamu undangan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dari perjanjian tersebut juga telah melahirkan UU RI Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintah Aceh yang menjadi semangat baru dalam menata masa depan.

“Baik buruknya keadaan masyarakat Aceh ke depan, bersatunya atau ambruknya persaudaraan Aceh ke depan sangat ditentukan oleh pelaksanaan UUPA ini,” sebutnya.

Pemerintahan Aceh yang berisikan putera-puteri terbaik, menurut Wali Nanggroe perlu mempelajari sejarah dengan sebenarnya. Sebab untuk mewujudkan peradaban Aceh yang mulia dan bersyariat, orang Aceh harus memiliki visi yang sama.

“Dengan semangat keteladanan Rasulullah SAW, marilah kita mewujudkan peningkatan kesejahteraan rakyat Aceh dengan memajukan pendidikan, ekonomi dan perdagangan. Masa depan Aceh yang lebih baik harus kita siapkan dari sekarang. Hal ini harus dicapai dengan kerjasama kita dalam bingkai Syariat Islam.”

“Hari ini kita patut bersyukur Aceh masih memiliki para ulama. ulama yang senantiasa memikirkan keselamatan ummat. kita patut berterimakasih kepada para ulama kita yang senantiasa menjaga ukhuwah islamiyah diatara kita. Dari ulama kita belajar untuk tidak meributkan persoalan khilafiyah yang hanya menghabiskan energi dan waktu. tanpa menyentuh langsung kemaslahatan umat,” tambah Wali.

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haytar, saat menyerahkan santunan kepada anak yatim.

Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini, Wali Nanggroe menyerahkan santunan kepada 200 anak yatim yang berasal dari gampong-gampong seputaran Kompleks Meuligoe Wali Nanggroe.

Acara juga diisi dengan tausiah yang disampaikan oleh Tgk. H. Nuruzzahri Yahya atau Waled Nu dan doa bersama oleh Abi Mawardi Hasyim.

“Bagi orang Aceh perayaan maulid sudah mendarah daging sejak dahulu zaman kesultanan. Mari kita jadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan, yang telah menyempurnakan akhlak manusia dari zaman jahilliyah yang tidak tahu apa-apa dan gelap gulita, menjadi tahu sampai sekarang ini,” kata Waled Nu dalam tausiahnya. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed