oleh

Memilih Chloroquine, Dapatkah Sebagai Obat COVID-19?

TAHUN 2020 ini seluruh umat manusia di hadapkan oleh suatu wabah yang di anggap sangat berbahaya dengan transmisinya sangat cepat yaitu Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Penyebab dari COVID-19 Coronavirus baru pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China.

Pada 11 Maret 2020, World Health Organization (WHO) telah mendeklarasikan bahwa COVID-19 sebagai pandemi global. Sekilas, pada awalnya dijelaskan bahwa COVID-19 ini berasal dari hewan yang diperdagangkan di pasar Wuhan.

Lambat Laun mulai muncul teori-teori yang menyatakan bahwa COVID-19 ini tidak berasal dari hewan, melainkan virus ini dibuat di laboratorium untuk tujuan yang masih belum jelas. Salah satu pengamat geopolitik seperti Mardigu Wowiek yang menyatakan COVID-19 sengaja diciptakan untuk perang dagang.

Semua Pemimpin Negara dibuat kebingungan menghadapi pandemi global ini. Karena COVID-19 ini merupakan virus baru yang pastinya belum ada obat yang dapat di gunakan untuk orang-orang terinfeksi serta belum lagi Pemerintah harus melakukan pencegahan dengan cara melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

PSBB berdampak kepada roda perekonomian nasional yang tidak dapat berjalan dengan baik. Dan membuat banyaknya PHK karyawan-karyawan perusahaan dan imbasnya dapat meningkatkan angka kriminalitas.

Penularan COVID-19 menular atau masuk ke tubuh manusia melaui tiga portal yaitu mata, hidung, mulut. Contoh singkatnya ada seseorang yang terinfeksi COVID-19 ini kontak dengan orang yang sehat.

Jadi saat orang yang terinfeksi COVID-19 ini berbicara dengan orang sehat, maka otomatis ada droplet/percikan ludah yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang yang mungkin terbang dan menempel di baju, tangan, wajah orang sehat.

Disinilah salah satu usaha kita untuk melindungi diri untuk dapat menjaga jarak dengan teman, kerabat dan sebagainya selama vaksin COVID-19 ini masih dalam tahap pengujian. Setiap keluar rumah perlunya menggunakan masker dan membawa hand sanitizer apabila kontak dengan barang-barang yang di sentuh.

Tanda-tanda yang dirasakan oleh penderita COVID-19 meliputi adanya tanda dan gejala paling lambat muncul setelah 14 hari terpapar virus. Gejala berupa demam, pilek, sakit tenggorokan serta COVID-19 ini bisa lebih membahayakan nyawa seseorang apabila orang tersebut memiliki riwayat penyakit jantung, ginjal, dan sebagainya. Maka dari itu pentingnya untuk menjaga tubuh tetap fit agar imunitas dapat melawan COVID-19.

Chloroquine Phosphate 250MG Tablets. (FOTO | Kiriman Penulis : Muhammad Iqbal Maulana)

Para ahli tentu tidak hanya berdiam diri untuk mencari obat COVID-19, mereka menemukan beberapa obat yang dapat menyembuhkan penyakit lain ternyata memilki potensi untuk mengatasi COVID-19. Salah satunya adalah Chloroquine Phosphate 250MG Tablets.

Di China telah dilakukan uji in vitro dan uji klinis dan mereka mengklaim bahwa hasilnya positif setelah di test pada 100 orang yang terkena COVID-19. Kemudian, di beberapa bulan ke depan WHO dengan tegas melarang obat-obatan yang masih dalam tahap uji klinis seperti Chloroquine.

Chloroquine termasuk golongan obat keras . Guru besar ahli Farmakologi dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Zullies Ikawati dalam postingan facebook pribadinya Chloroquine memang dilaporkan memiliki efek antiviral yang kuat terhadap virus SARS-CoV (virus penyebab SARS pada tahun 2002-2003 yang lalu).

Chloroquine bekerja dengan mengikat reseptor seluler angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) yang merupakan tempat masuknya virus SARS-CoV, sehingga menghambat masuknya virus ke dalam sel.

Selain itu, Chloroquine meningkatkan pH endosomal yang menyebabkan hambatan replikasi virus, karena replikasi virus membutuhkan suasana asam. Tapi ingat, Chloroquine adalah obat keras (bertanda lingkaran merah) yang harus digunakan dengan resep dokter, dan sebaiknya digunakan untuk yang sudah positif COVID-19 saja.

“Ngga usah ikut-ikutan nimbun klorokuin. Pertimbangkan risiko dan manfaat, efek samping klorokuin juga tidak kecil. Antara lain adalah gangguan penglihatan, abnormalitas pada jantung, dan lainnya,” tulis Prof. Zullies Ikawati.

Lantas, bagaimana cara mengendalikan gejala-gejala COVID-19, sementara WHO sudah secara tegas menyatakan bahwa melarang semua penderita COVID-19 untuk melakukan pengobatan mandiri dengan Chloroquine selama vaksin masih dalam tahap uji coba.

Kita sebagai masyarakat bisa mengendalikan gejala-gejala COVID-19 seperti dengan cara pasien yang menderita COVID-19 terdapat gejala demam, maka bisa diberikan obat yang dijual bebas seperti paracetamol untuk menurunkan demamnya.

Dan yang tak kalah penting antibiotik tidak dapat diberikan untuk pengobatan mandiri pasien Covid-19. Karena aantibiotic itu dikhuskan untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri, sementara COVID-19 disebabkan oleh virus yang umumnya tidak dapat dibunuh dengan antibiotik.

Lantas apa yang dapat kita lakukan untuk saat ini untuk dapat mencegah COVID-19?. Pada dasarnya virus dapat di bunuh oleh sel-sel imun pada tubuh kita, sehingga dianjurkan untuk meningkatkan imunitas dengan berbagai cara.

Contoh seperti rutin berolahraga yang cukup, makan makanan yang bergizi, berjemur di matahari pagi sekurang-kurangnya 15 menit dan yang tidak kalah penting adalah tetap harus mejaga jarak dengan orang lain, rajin cuci tangan, menggunakan masker saat keluar rumah, serta selalu berdoa kepada Tuhan agar terhindar dari COVID-19. Semoga di tahun 2021 vaksin sudah dapat digunakan dan kehidupan akan berjalan normal kembali. Salam sehat !!!. []

(Editor | Redaksi)
(Oleh | Muhammad Iqbal Maulana dibawah bimbingan Zul Akli, S.H., M.H)

Tulisan ini kiriman pembaca PENAPOST.ID. Isi diluar tanggungjawab redaksi.

Advertisement

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed