oleh

Menagih Janji Nova, Antara Ada dan Tiada

banner 728x90

PENAPOST.ID-Penantian warga terhadap jembatan Krueng Teukuh, Desa Lama Tuha, Kecamatan Kuala Batee, Aceh Barat Daya (ABDYA), untuk pembangunan jembatan di sana masih belum ada kepastian.

Lihatlah, Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, saat meninjau jembatan tersebut pada Selasa, 18 Desember 2018 lalu, pernah menebar janji akan membangun kembali sarana infrastruktur yang pernah terbengkalai 10 tahun lalu itu paling lambat tahun 2020. Antara ada dan Tiada.

Saat itu, Nova menyambangi jembatan tersebut bersama Bupati Aceh Barat Daya, Akmal Ibrahim dan Anggota DPR RI Dapil Aceh, Teuku Rifky Harsya.

Ketua YARA Aceh Barat Daya, Miswar, SH, dalam keterangan pers, menyebutkan jembatan tersebut sudah pernah masuk dalam anggaran Dana Alokasi Khusus Aceh (DOKA) atau Otsus 2018 sebesar Rp.10 Miliar.

Sayangnya, ditengah jalan anggarannya di alihkan ke pembangunan jembatan Mancang Riek. Padahal masyarakat setempat sudah sangat membutuhkan jembatan itu segera dibangun untuk kelancaran transportasi menuju lahan pertanian dan perkebunan.

Sampai saat ini masyarakat di Kuala Batee masih menggunakan rakit jika akan melakukan penyeberangan antar gampong.

Itu sebabnya YARA menagih janji Plt Gubernur menyelesaikan jembatan ini. Karena jembatan ini menjadi urat nadi masyarakat di sana,

“Akan kita kawal janji ini mengingat pembangunannya telah berulang kali gagal,” kata Miswar sembari mengaku ia telah meninjau langsung lokasi jembatan tersebut.

YARA Abdya meminta agar Plt Gubernur Aceh tidak mengabaikan janjinya mengingat jalan dan jembatan sebagai salah satu prasarana transportasi yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat yang mempunyai peranan penting dalam usaha pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jalan dan jembatan mempunyai peranan penting untuk mewujudkan sasaran pembangunan seperti pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi, dan perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana di atur dalam UU No 38 tahun 2004 tentang Jalan.

“Selain itu pentingnya pembangunan jalan dan jembatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat atas angkutan barang dan jasa (orang) yang aman, nyaman, dan berdaya guna benar-benar akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di Abdya dan Kuala Batee khususnya,” sambungnya.

Miswar punya alasan keberadaan jembatan ini menjadi penting bagi masyarakat di sana. Setiap hari ada ratusan orang yang melintasi di sungai ini dengan menggunakan rakit tradisional yang rentan dengan keselamatan.

“Kita ingin Abdya juga mendapat perhatian serius dari Plt Gubernur Aceh untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat terutama dalam angkutan barang dan jasa (orang) yang aman, nyaman, dan berdaya guna benar-benar akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di Abdya, sehingga keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia juga sebagai mana di atur dalam pasal lima pancasila dan UUD 1945 juga sampai ke Abdya” kata Miswar.

YARA mengingatkan kepada Pemerintah Aceh dan Abdya bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas umum yang layak yang harus diatur dengan undang-undang sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 34 ayat (3) UUD 45.

“Pengabaian terhadap hak warga di Abdya untuk mendapatkan fasilitas infrastuktur yang layak merupakan pelanggaran terhadap hak warga Negara,” lanjutnya.

Ia menambahkan, oenyediaan fasilitas umum yang layak telah di jamin oleh UUD45, jembatan Krueng Teukueh ini merupakan fasilitas umum yang sangat di butuhkan oleh masyarakat di Kuala Batee.

“Oleh karena itu kita menunggu itikat baik Pemerintah Aceh dan Pemkab Abdya untuk menyelesaikan pembangunan jembatan tersebut tahun 2020 ini,” tambah Miswar. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed