oleh

Peneliti China Sebut COVID-19 Turunkan Kualitas Hormon Seks Pria

Baru-baru ini, para dokter di kota Wuhan, China bagian tengah melakukan penelitian skala kecil tentang efek virus corona jenis baru penyebab COVID-19 terutama pada sistem reproduksi pria. Dari penelitian skala kecil itu menunjukkan bahwa patogen dapat mempengaruhi kadar hormon seks pada pria.

Meskipun masih awal dan belum ditinjau oleh rekan, studi ini merupakan pengamatan klinis pertama dari dampak potensial COVID-19 pada sistem reproduksi pria, terutama di antara kelompok usia yang lebih muda.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada platform penelitian pracetak medRxiv.org, para peneliti dari Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan dan Pusat Penelitian Klinis Hubei untuk Diagnosis Prenatal dan Kesehatan Kelahiran, menganalisis sampel darah dari 81 pria berusia 20-54 tahun yang dites positif untuk virus corona dan dirawat di rumah sakit pada bulan Januari. Dengan usia rata-rata peserta adalah 38 dan sekitar 90 persen dari mereka hanya memiliki gejala ringan.

Dalam penelitian tersebut, tim peneliti melihat rasio testosteron terhadap hormon luteinisasi (T / LH). Rasio T / LH yang rendah dapat menjadi tanda hipogonadisme, yang pada pria merupakan kegagalan fungsi testis yang dapat menyebabkan produksi hormon seks yang lebih rendah. Dari hasil itu diketahui, rasio rata-rata untuk pasien COVID-19 adalah 0,74, sekitar setengah dari tingkat normal.

Testosteron adalah hormon seks utama pria yang penting untuk pengembangan karakteristik seksual primer dan sekunder termasuk testis, otot, massa tulang, dan rambut tubuh. Hormon lutein ditemukan pada pria dan wanita, dan terkenal karena kemampuannya untuk memicu ovulasi.

Gejala umum hipogonadisme pada pria termasuk payudara besar yang tidak normal dan disfungsi ereksi. Meski begitu, kondisi tersebut bisa disembuhkan. Gangguan ereksi yang disebabkan oleh rasio T / LH yang lebih rendah dari 0,87 dapat dihilangkan secara efektif dengan pengobatan testosteron, menurut sebuah studi dalam jurnal peer-review Archives of Sexual Behavior pada 1997.

“Karena lebih dari separuh orang dengan COVID-19 berusia reproduktif, lebih banyak perhatian harus diberikan pada efek Sars-CoV-2 pada sistem reproduksi,” kata para peneliti Wuhan dalam makalah mereka, yang dikutip dari laman SCMP.

Tim penelitian itu mengatakan hasil tersebut tidak konklusif dan sampel darah bukan bukti langsung masalah reproduksi dengan pasien COVID-19. Faktor-faktor lain, seperti pengobatan dan respons sistem kekebalan tubuh, juga dapat menyebabkan perubahan hormon.

Para peneliti mengatakan mereka berencana untuk melakukan studi jangka panjang, yang mungkin termasuk pengumpulan dan analisis sampel sperma dan wawancara dengan pasien positif virus corona.

Studi sebelumnya telah mengindikasikan bahwa virus corona jenis baru dapat berikatan dengan ACE2, sel protein reseptor, yang sebagian besar terkonsentrasi di testis.

Li Yufeng, seorang profesor kedokteran reproduksi di Rumah Sakit Tongji di Wuhan, telah memprediksi dalam sebuah penelitian bahwa testis bisa menjadi target utama serangan virus corona.

Studi lain juga menunjukkan bahwa sindrom pernapasan akut yang parah, atau Sars, kerabat jauh dari virus corona baru, juga dapat menyebabkan peradangan pada testis.

Seorang peneliti dengan Laboratorium Kunci Negara Bagian Kedokteran Reproduksi di Universitas Kedokteran Nanjing, mengatakan pengamatan baru itu merupakan informasi yang sangat berharga, tetapi sampel yang lebih besar akan diperlukan untuk mengklarifikasi hasil tersebut.

“Banyak virus dapat mempengaruhi kesuburan, tetapi tidak setiap virus dapat menyebabkan pandemi. Jika dampaknya tahan lama, itu bisa menjadi masalah,” kata peneliti, menolak disebutkan namanya karena sensitivitas masalah tersebut. []

(Sumber | VIVA.CO.ID)

Advertisement

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed