Polisi Gagalkan Aksi Wanita Penjual Bayi Usia Sehari

Jakarta-Personel Polres Unit Pelayanan Perempuan Dan Anak (UNIT PPA) Sat Reskrim Polres Klaten, berhasil mengagalkan aksi Lestariningsih alias Lia (29), warga Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menjual bayi usia sehari.

Disadur Kompas.com, Jumat (13/1/2023), Lia ditangkap di salah satu hotel kelas melati di Klaten pada Selasa malam (10/01/2023). Bayi itu merupakan anak yang dia adopsi dari pasangan Subandi serta Siti Lestari asal Gunungkidul.

Menurut petugas Kepolisian berdasarkan hasil pemeriksaan, bayi perempuan tersebut lahir di sebuah klinik di Kota Yogyakarta, Senin malam (09/01/2023).

Pelaku mengaku penjualan bayi ini bukan pertama kali ia dilakukan. Pada November 2022, Lia mengaku juga pernah menjual bayi asal Demak dengan harga Rp 18 juta.

Kasus jual beli bayi di wilayah Klaten tersebut berawal saat Subandi menulis status mencari orangtua asuh untuk anak yang dikandung istrinya.

Status itu ditulis di sebuah grup Facebook Peduli Jangan Buang Bayi. Pasangan suami istri ini berusaha mencari orang yang mau mengadopsi bayi yang berusia 11 bulan.

Subandi mengaku tidak punya biaya untuk merawat bayi, karena itu ia mencari sosok orantua asuh untuk anaknya. Lia yang melihat status tersebut pun menghubungi Subandi dan membahasnya lewat aplikasi chat WhatsApp.

Subandi yang mendapat kabar ada yang ingin mengadopsi bayinya pun setuju memberikan sibuah hati. Pada saat istrinya sudah lahiran, Subandi mengabarkan hal itu kepada Lia.

Kanit PPA Satreskrim Polres Klaten, Ipda Febryanti Mulyadi menjelaskan, pada Senin (09/01/2023) sekitar pukul 18.00 WIB, Subandi mengabari Lia jika bayi yang dikandung istrinya sudah lahir. Pada Selasa (10/01/2023) pukul 09.00 WIB, Lia meminta Subandi mengirimkan foto bayi perempuannya.

Kemudian, Lia mengirim foto bayi tersebut untuk ditawarkan ke grup WhatsApp “4dopt3r 4m4nh4h butuh adopter”. Saat itu ada anggota grup yang bertanya berapa ganti biaya dan dijawab oleh Lia yakni Rp 21 juta.

“Ada yang menanyakan berapa harus ganti biaya, lalu dijawab tersangka Rp20 juta. Akan tetapi ada yang menawar Rp7 juta,” kata Ipda Febryanti Mulyadi, Jumat (13/01/2023).

Selanjutnya, Lia mendatangi klinik tempat istri Subandi melahirkan dan memberikan uang Rp 5 juta sebagai biaya persalinan, sekaligus meminta fotokopi KTP, KK dan surat pernyataan adopsi.

Surat itu mau ditandatangani langsung oleh pasangan Subandi dan istri, karena pasangan suami istri tersebut mengira anaknya bakal diadopsi oleh Lia. Namun kenyataannya, bayi mereka justru dijual kepada orang lain melalui media sosial.

“Pelaku mengaku sebagai orang yang mau mengadobsi bayi. Kemudian setelah mendapatkan bayi, pelaku menjual bayi tersebut kepada orang yang membutuhkan untuk mendapatkan keuntungan,” ungkap Ipda Febryanti Mulyadi.

Kanit PPA Satreskrim Polres Klaten menyampaikan, saat ini bayi tersebut telah dikembalikan ke orangtuanya, setelah petugas berhasil menangkap pelaku di sebuah hotel.

Hal itu terungkap saat petugas patroli melakukan patroli cipta kondisi menyasar kawasan perhotelan, Selasa (10/01/2023) sekira pukul 21.00 WIB. “Ketika tiba di sebuah hotel di kawasan Ceper, didapati di sebuah kamar ada seorang perempuan dan bayi,” ucapnya.

Lalu petugas melakukan pengecekan identitas dan didapati data pribadi perempuan bernama Lia itu tidak sama dengan data ibu bayi yang ada bersamanya.

“Identitas perempuan dan nama ibu dari data kelahiran bayi tidak sama. Saat dicek handphone pelaku juga didapati chat tawar-menawar harga bayi perempuan itu,” kata Kanit PPA Satreskrim Polres Klaten.

Petugas mengungkap bahwa ini merupakan upaya kedua pelaku menjual bayi, “Pertama di daerah Demak saat itu terjual Rp 18 juta. Motifnya mendapatkan keuntungan,” ucapnya.

Ipda Febry membeberkan, pelaku yang kini ditetapkan sebagai tersangka sudah berkeluarga serta memiliki anak. Sehari-hari Lia bekerja sebagai buruh harian lepas.

“Mau dua kali ini, karena mau ambil keuntungan. (Uang) buat kebutuhan. Pertama jual di Demak. Itu dari ibu hamil Semarang tapi kos di Klaten.”

Untuk upaya kedua ini belum ada pembeli karena masih ditawarkan ke orang dengan harga Rp 20 juta dan Rp 21 juta. “Belum terjual, sudah ditawarkan Rp 20 juta dan Rp 21 juta,” katanya.

Atas perbuatannya, Lia disangkakan Pasal 83 Jo Pasal 76F Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun. []

(Sumber | KOMPAS.COM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *