oleh

Ritual ‘Setan Gentayangan’ di Malam Tahun Baru

Tokyo-Perayaan Tahun Baru tak selamanya senantiasa penuh dengan canda tawa. Di Jepang, momen pergantian tahun justru dihantui ‘setan gentayangan’. Hii!

Apa jadinya kalau perayaan pergantian tahun yang menyenangkan tiba-tiba menjadi mencekam saat sekelompok setan datang mengetuk pintu rumahmu? Mereka tak cuma ingin bertamu tetapi juga mencari anak-anak nakal untuk direkrut menjadi bagian dari kelompok mereka!

Inilah yang terjadi setiap Tahun Baru di Oga City, Prefektur Akita, Jepang. Jangan takut, setan-setan ini bukan setan sungguhan melainkan orang-orang yang mengenakan kostum rumput dan topeng Dewa Namahage.

Namahage sendiri bisa dikatakan sebagai sejenis entitas dari kahyangan yang sosoknya amat menyeramkan. Atau dalam bahasa Jepang biasa disebut sebagai oni alias setan.

Dalam ritual itu, orang-orang bertopeng Namahage akan berkeliling dan berteriak mencari anak-anak. Jika mereka menemukan anak yang nakal, anak itu akan diambil dan dijadikan anggota mereka. Saat itu, ‘oni gentayangan’ ini akan meminta anak-anak itu untuk rajin belajar, bekerja keras, dan patuh pada orang tua.

Anggota keluarga lainnya bertugas untuk meyakinkan mereka kalau anak di keluarga itu adalah anak yang baik. Setelah merenungkan segala sifat buruk yang dimiliki si anak atau keluarga tersebut, Namahage akan disuguhi makanan dan minuman seperti sake sebagai wujud pengampunan dan agar Namahage pergi.

Ada berbagai teori yang menyatakan makna dari ritual ini. Salah satu yang paling umum mengatakan, ritual ini dilakukan untuk menyambut dewa kuat yang akan membawa keberuntungan di tahun baru. Ritual yang disebut sebagai Oga no Namahage ini juga telah dinobatkan sebagai warisan dunia tak benda oleh UNESCO pada 2018.

Asal-usul ritual Namahage
Dilansir DETIK.COM dari Namahage Museum, Selasa (31/12/2019), ritual Namahage dilakukan berdasarkan legenda tentang Namahage yang sudah ada sejak dua ribu tahun yang lalu ketika kaisar Han membawa lima setan raksasa ke Jepang. Setan-setan ini dikisahkan kerap mencuri tanaman dan gadis-gadis dari desa-desa Oga.

Untuk mengatasi hal itu, penduduk desa memutuskan untuk menipu para setan ini. Mereka berjanji akan memberikan seluruh gadis desa jika para setan berhasil membangun seribu tangga batu dalam satu malam. Apabila para setan gagal membangun tangga sampai kuil lokal, mereka harus meninggalkan Oga dan tidak boleh kembali lagi.

Para setan itu menerima tantangan tersebut. Mereka telah membangun 999 tangga ketika seorang penduduk desa yang cerdik menirukan seekor ayam jantan berkokok yang menandakan fajar telah menyingsing. Para setan itu akhirnya gagal dan melarikan diri. Sejak saat itu mereka tak pernah terlihat lagi.

Selain ritual yang telah dijelaskan di bagian awal, di Oga juga ada ritual musim dingin yang menyatukan tradisi Namahage dan festival Shinto. Kegiatan ini disebut sebagai Namahage Sedo Festival.

Festival ini dimulai dengan tarian kagura sakral yang disebut Chinkamayu no Mai. Tarian itu juga diikuti dengan tarian Namahage yang dinamis dan pukulan drum.

Sebanyak lima belas Namahage akan turun dari gunung sambil membawa obor. Puncak acara ini akan terjadi di malam hari. Saat datang ke festival itu, jangan lewatkan kue ketan yang diberikan buat para setan. Kue ketan ini dipercaya dapat menangkal bencana. []

(Sumber | DETIK.COM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed