oleh

Rupiah di Rp 16.000/US$, Apakah RI Krismon Lagi Seperti 1998?

Jakarta-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah sepanjang tahun ini, bahkan sudah berada di kisaran Rp 16.000/US$. Level yang belum pernah dicapai sejak krisis multidimensi melanda Ibu Pertiwi pada 1998.

Pada Jumat (27/3/2020) pukul 08:51 WIB, US$ 1 setara dengan 16.160. Secara year-to-date, rupiah mengalami depresiasi 17,26% di hadapan greenback.

(Tangkap layar Via CNBCINDONESIA.COM)

Posisi terbaik rupiah sejak awal tahun ada di Rp 13.565/US$ yang terjadi pada 24 Januari. Sementara terlemahnya adalah Rp 16.620/US$ pada 23 Maret.

Kalau dilihat dari posisi penutupan pasar, maka Rp 16.620/US$ adalah posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah. Namun secara intraday, posisi terlemah masih di Rp 16.800/US$ yang disentuh pada Juni 1998.

Pergerakan rupiah tahun ini yang melemah signifikan membawa ingatan masyarakat ke krisis moneter (krismon) 1998, karena kali terakhir rupiah menembus level Rp 16.000/US$ memang pada tahun di mana Orde Baru tumbang itu. Namun, sebenarnya ada perbedaan yang sangat besar.

Rupiah Memang Melemah, Tapi 1998 Lebih Parah
Pertama, rupiah memang anjlok 17,26% sejak awal tahun ini. Depresiasi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan 1998.

Sepanjang 1998, rupiah melemah 44,44%. Dibandingkan dengan periode yang sama, 31 Desember-27 Maret, kala itu rupiah amblas 52,78%. Pelemahan 17% jadi terlihat kerdil.

(Tangkap layar Via CNBCINDONESIA.COM)

Selain itu, sepertinya Indonesia sulit untuk jatuh ke lubang yang sama seperti 1998. Saat ini, fundamental ekonomi Tanah Air sudah jauh lebih kuat.

Ambil contoh cadangan devisa. Pada 1998, cadangan devisa Indonesia ‘hanya’ belasan miliar dolar AS. Per akhir Februari 2020, cadangan devisa mencapai US$ 130,4 miliar.

(Tangkap layar Via CNBCINDONESIA.COM)

“Kami pastikan jumlah cadangan devisa yang kami miliki lebih dari cukup. Dengan tekanan nilai tukar yang cukup besar tentu ada penurunan. Kami memastikan jumlah cadangan devisa lebih dari cukup untuk bagaimana mendukung upaya stabilisasi nilai tukar rupiah,” tegas Perry Warjiyo, Gubernur BI, kemarin.

Perbankan Indonesia Lebih Solid
Kedua, perbankan yang menjadi episentrum krisis 1998 kini juga jauh lebih kuat. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada 1998 sangat rendah, bahkan sempat minus. Sekarang, CAR berada di kisaran 20%.

(Tangkap layar Via CNBCINDONESIA.COM)

Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan) pada 1998 juga sangat tinggi yaitu pernah mencapai sekitar 48%. Per akhir Januari, NPL gross hanya 2,77%.

(Tangkap layar Via CNBCINDONESIA.COM)

Oleh karena itu, sebenarnya fundamental Indonesia sudah jauh lebih baik sehingga pengalaman 1998 sepertinya sulit terulang. Memang benar tahun ini rupiah melemah, tetapi itu murni disebabkan faktor eksternal yaitu penyebaran virus corona yang semakin masif.

“Mereka (investor) tidak bisa kemudian disalahkan, karena seluruh dunia itu dua minggu terakhir panik. Fenomena (arus modal) keluar itu terjadi. Di Brasil, negara emerging, maupun di berbagi negara,” kata Perry.

Namun, Perry menegaskan bahwa fenomena tersebut bersifat temporer. Terbukti rupiah mampu menguat dalam tiga hari terakhir setelah ada kejelasan mengenai paket stimulus fiskal di negara-negara maju, terutama di AS.

“Kami melihat beberapa investor membeli aset-aset keuangan meski belum besar. Begitu kepanikan mereda, ada kejelasan langkah-langkah global, mereka masuk kembali. “Jadi pelemahan rupiah terjadi karena kepanikan global. Begitu ada kejelasan, kebijakan fiskal dan moneter, rupiah akan kembali stabil dan menguat. Pelemahan rupiah ini temporer, saya tidak yakin korporasi menaikkan harga karena pelemahan rupiah,” jelas Perry. []

(Sumber | CNBCINDONESIA.COM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed