oleh

Sekolah Tatap Muka di Aceh Tergantung Gugus Tugas COVID-19

Banda Aceh-Coronavirus Desease 2019 (COVID-19), yang melanda dunia hingga penjuru tanah air ikut berdampak hingga ke sektor pendidikan. Proses Belajar Mengajar (PBM) pada satuan pendidikan belum sepenuhnya berlangsung normal dengan cara tatap muka.

Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh, Teuku Nara Setia, mengungkapkan bahwa boleh tidaknya satuan pendidikan melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) tatap muka di Aceh, tergantung Tim Gugus Tugas COVID-19 di Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh.

“Kita memang mengarah ke tatap muka, tapi tergantung rekomendasi dari Pemerintah Kabupaten/Kota melalui Gugus Tugas COVID-19,” ujar Teuku Nara Setia, Sektetaris Dinas Pendidikan Aceh, kepada media Pers, Selasa (03/11/2020) di Banda Aceh.

Ia mengatakan, pada zona merah dan oranye COVID-19, tetap berpengaruh terhadap proses belajar tatap muka, karena Kabupaten/Kota yang mengetahui detail situasi daerah tersebut.

“Bila daerah itu kondisi perkembangan COVID-18 terkendali bisa langsung tatap muka. Disdik Aceh siap dan selalu memfasilitasi dengan tetap harus menjaga penyebaran Covid-19,” katanya.

Menurutnya, Dinas Pendidikan Aceh terus mempersiapkan fasilitas-fasilitas di sekolah seperti tempat cuci tangan hingga hand sanitizer dan masker.

“Tetap kami fasilitasi dari provinsi untuk Kabupaten/Kota kepada sekolah-sekolah yang ada di seluruh Aceh,” tuturnya.

Ia menegaskan, perlakuan yang sama berlaku untuk seluruh SMA/SMK dan SLB yang ada di Aceh.

“Untuk SD/SMP itu karena tanggung jawabnya di kabupaten/kota itu lebih maksimal kabupaten/kota yang mengkoordinirnya,” tambahnya.

Sekdisdik Aceh ini menyebutkan ada sekolah sedang berlangsung belajar tatap muka. Namun begitu kasus COVID-19 meningkat langsung distop.

“Seminggu dua minggu setelah itu langsung kembali belajar tatap muka,” imbuhnya.

Begitupun, Nara melihat
belajar tatap muka lebih besar di Aceh. Tapi tidak menepis perkembangan COVID-19 sehinga dari zona hijau ke zona kuning itu distop sesaat. “Jadi belajar tatap muka tergantung situasi dan tetap dikontrol dengan perkembangan penyebaran COVID-19,” sambungnya.

Dikatakannya, sebagian kabupaten/kota di Aceh yang sudah belajar dengan tatap muka tapi tetap mengikuti protapnya protokol kesehatan atau pencegahan corona.

Soal keluhan orang tua murid tentang balajar daring, Teuku Nara mengatakan itu menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas Pendidikan Aceh untuk terus mencari solusi supaya hal-hal tersebut bisa teratasi.

Sehingga, lanjut dia,, siswa gigih berjuang bagaimana belajar yang lebih baik dan lebih mudah difahami. Memang secara tatap muka lebih bagus tapi harus bisa mengatasi penyebaran COVID-19.

“Bisa saja di kursi kita buat batas atau sekat kaca. Tapi waktu murid itu bermain atau setelah dia keluar ruangan bagaimana dikondisikan, itu yang perlu dipikirkan,” tuturnya.

Dalam jam belajar, sebutnya, dapat diatur misalnya saat belajar tatap muka orang luar atau orang tuanya bisa dibatasi. []

(Editor     | Muhammad Zairin)
(Laporan | Muhammad Zairin)

Advertisement

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed