oleh

Semen Indonesia Jungkir Balik Bayar Utang Akuisisi Holcim

Jakarta-PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) jungkir balik untuk membayar utang (refinancing) utang akuisisi PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), yang kini memakai nama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI).

Perseroan mengakuisisi 98,3% saham Holcim dengan utang dari bank asing Rp 13,5 triliun. Biaya utang mencapai 11,7% per tahun, termasuk biaya lindung nilai, mengingat utang berdenominasi mata uang asing.

Danareksa mencatat, selama tahun lalu, perseroan berjuang melakukan refinancing. Perseroan menerbitkan obligasi Rp 4 triliun dengan bunga 9% per tahun dan menarik pinjaman bank Rp 9 triliun. Bunganya JIBOR 3 bulan plus 1,85%.

Berdasarkan data Bloomberg, besaran JIBOR 3 bulan per 20 Maret 2020 mencapai 4,88%, dibandingkan periode sama tahun lalu 7,11%. Ini tentunya akan menguntungkan perseroan.

“Per Desember 2019, total utang Semen Indonesia mencapai Rp 28 triliun, sedangkan rivalnya, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) nol,” tulis Danareksa dalam laporan riset, belum lama ini.

Indocement juga memegang dana tunai Rp 7,7 triliun per Desember 2019, lebih tinggi dari tahun sebelumnya Rp 7,2 triliun. Ini membuka ruang bagi perseroan untuk memberikan dividen besar.

Tahun lalu, Danareksa mencatat, rasio dividen Indocement mencapai 176,7%, sedangkan Semen Indonesia 40%. Ini merupakan salah satu nilai lebih saham semen di Bursa Efek Indonesia.

Dari sisi fundamental, Danareksa menilai, industri semen akan menghadapi tantangan dari wabah Covid-19, yang membuat masyarakat menunda rencana pembangunan. Proyek infrastruktur pemerintah juga berpotensi tertunda, karena fokus digeser ke penanganan kasus Covid-19.

“Dua pemain itu menetapkan target penjualan konservatif, 0-2%. Untungnya, harga jual kemungkinan naik, seperti tahun lalu sebesar 3-6%,” tulis Danareksa.

Hal baik emiten semen, tulis Danareksa, adalah penurunan harga minyak yang bakal mengompensasi pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Biaya bahan bakar mencapai 40% dari beban pokok penjualan dan biaya pengepakan 8%. Adapun eksposur dolar ke biaya berkisar 45-50%.

Koreksi harga minyak dan batu bara belakangan ini, demikian Danareksa, akan mengompensasi depresiasi rupiah. Ini terlihat pada stabilnya harga bahan bakar ritel Pertamina dan pemain lain,

Danareksa tetap menyematkan rekomendasi overweight saham semen nasional, karena valuasinya menarik, perang harga tidak ada lagi, neraca solid, diuntungkan penurunan bunga, dan royal membagikan dividen.

Rating saham SMGR dan INTP adalah buy dengan target harga masing-masing Rp 13.100 dan Rp 17.600. Kemarin, saham SMGR dan INTP turun 6,8% menjadi Rp 6.125 dan INTP stabil di Rp 10.350. []

(Sumber | MARKETMOVER.ID)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed