oleh

Setiap Tahun, Industri Rokok Mencari Perokok Baru

Jakarta-Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari mengatakan, setiap tahunnya industri rokok kehilangan 240.618 pelanggan setia karena meninggal dunia. Angka ini setara dengan 668 orang setiap harinya. Supaya industri rokok tidak bangkrut dan bisnisnya terus berjalan mereka harus mencari perokok pengganti.

Perokok remaja adalah satu-satunya sumber perokok pengganti tersebut. Jika para remaja tidak merokok maka industri akan bangkrut sebagaimana sebuah masyarakat yang tidak melahirkan generasi penerus akan punah.

Industri rokok melakukan berbagai cara manipulatif dalam memasarkan rokok kepada anak muda. Mereka mengeluarkan triliunan rupiah setiap tahun untuk membuat iklan rokok, mempromosikan dan memberi sponsor rokok.

“Industri menjual gaya hidup anak muda yang gaul, keren, gemar bertualang dan macho dalam pesan-pesan iklannya,” kata Lisda kepada Beritasatu.com, Jumat (29/5/2020).

Industri juga mensponsori figur publik dan influencer untuk menggaet para penggemar fanatik dan follower mereka yang utamanya adalah anak muda. Mensponsori konser musik, event olahraga dan film yang bertemakan anak muda.

Hasil monitoring iklan rokok oleh Yayasan Lentera Anak, Smoke Free Agents dan YPMA tahun 2015 menunjukkan, 85% sekolah di lima kota di Indonesia dikelilingi iklan rokok dengan jumlah pembuat iklan sebanyak 30 merek.

Industri juga mempromosikan harga murah rokok batangan melalui baliho, banner, dan spanduk di jalan protokol, depan mini market dan toko sembako/warung. SPG rokok berjualan di lokasi yang banyak didatangi anak muda dan tidak jarang membagikan rokok secara gratis.

Sementara menurut studi PP IPM 2017, faktor yang mendorong remaja mengonsumsi rokok karena terpana dengan iklan, promosi dan sponsor rokok.

Studi komnas Anak dan Uhamka menunjukkan, sebanyak 46% remaja berpendapat iklan rokok memengaruhi mereka untuk mulai merokok. Terpaan iklan rokok sebagai produk yang keren, gaul, dan macho, menanamkan pesan di benak remaja bahwa rokok hal yang normal dan baik.

Oleh karena itu, lanjut Lisda, anak muda harus paham bahwa mereka dijadikan target industri rokok. Mereka harus melawan dan berani mengatakan tidak pada rokok. []

(Sumber | BERITASATU.COM)

Advertisement

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed