oleh

Sosok Bupati Nurdin A. Rachman, Nova Eliza: Tidak ada Batasan Beliau dan Rakyat

Laporan | M. Zairin

Sigli-Pidie dalam sejarah, dari tahun 1945 sampai 2020, Nurdin Abdur Rachman menjadi satu-satunya Bupati yang menjabat dua periode pada 1980 sampai dengan 1990.

Sosok Nurdin Abdur Rachman diangkat kembali dalam sebuah diskusi daring yang digelar DPD KNPI Pidie, Sabtu (27/06/2020). Dibuka sekaligus moderator oleh Ketua KNPI Pidie Teuku Syawal, dilanjutkan kemudian pemantik diskusi oleh Hasnanda Putra. Bendahara KNPI Aceh ini kemudian mulai membuka “kotak” profil sosok Bupati Pidie ini.

Diskusi yang digelar secara daring tersebut menghadirkan bintang tamu, aktris sekaligus aktivis sosial Nova Eliza. Ia merupakan putri Almarhum Nurdin Abdur Rachman.

Nova Eliza.

Nova Eliza bercerita tentang sosok keseharian dan tekad bulat sang ayahnya yang kemudian melahirkan kampus Universitas Jabal Ghafur (Unigha). “Tidak ada batasan beliau dan rakyat, suka blusukan dan ingin Pidie itu lebih maju,” kata Nova.

Dalam kesempatan itu seketika masuk Wakil Bupati Pidie Fadhlullah TM Daud. Ia juga berbicara lepas tentang sosok Bupati Nurdin dan Pidie yang disampaikan dengan apik berbasis literasi. Sesekali terlihat Nova Eliza mengangguk dan menyimak seksama sambil melempar senyum.

Diskusi makin menarik, ketika masuk Haji Ihsanuddin Marzuki (Anggota DPR Aceh), ternyata pengalaman kecil yang disampaikan Wabup ikut dikenangan keduanya, pada kisah pagar bambu setiap rumah di Pidie waktu itu.

Nova Eliza nampak terkesima dan berjanji ketika pulang kampung akan singgah ke “Rumoh Pemersatu” Balee Ihsan di Gampong Pango Banda Aceh. “Insya Allah, ketika pulang saya akan menyapa teman-teman dan singgah di Bale Pango,” kata Nova.

Diana Devi kakak Nova Eliza juga ikut bicara dan menjawab beberapa pertanyaan dan harapan dari alumni dan mahasiswa Unigha.

Di penghujung acara, masuk Mukas Abu. Tokoh yang populer dengan diksi “That Na Teuh” dan “Dheun Glima” ini mencoba menambah cerita tentang Bupati legenda ini.

Kalimat penutup Abu sempat membuat Nova Eliza tertawa, Abu berharap Pidie kedepan jangan terus “Meu Apam,”. “Kajeut tabeudoh mandum, meuhan meu apam laju,” katanya, disambut gelak tawa audiens.

Acara yang diinisiasi DPD KNPI Pidie ini berakhir dengan kesepakatan untuk saling bekerja sama membangun Pidie. Khusus tetang penghormatan kepada tokoh-tokoh Pidie, idealnya selain ada buku biografi juga dihargai dengan nama jalan.

“Insya Allah kita bicara kembali, apresiasi kepada para mantan bupati dan tokoh besar lainnya kiranya bisa sama-sama kita diskusi dan pertimbangkan bentuk penghargaan, bagaimanapun mereka berjasa menoreh sejarah emas Kabupaten Pidie,” pungkas Fadhlullah TM Daud. []

(Editor | Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed