oleh

Tata Cara Salat Tarawih di Rumah

Semua umat muslim di seluruh dunia saat ini sedang merasa bahagia lantaran bulan awal Ramadhan ditetapkan Jumat, 24 April 2020. Bulan yang penuh berkah serta ladang pahala ini sejatinya sangat amat ditunggu-tunggu oleh para muslim di dunia. Lalu bagaimana menjalankan ibadah salat Tarawih di tengah pandemi corona?

Di bulan ini, kita dikhususkan untuk melaksanakan suatu kewajiban yaitu berpuasa sebagaimana yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Bukan hanya itu saja, kita pun dituntut untuk melaksanakan salat Tarawih yang khususnya dilakukan pada bulan mulia ini.

Namun, semenjak merebaknya wabah virus mematikan COVID-19 di seluruh dunia termasuk Indonesia sendiri membuat para pemangku kebijakan bersikap tegas.

Segala kegiatan yang sifatnya mengundang banyak orang diharuskan untuk ditiadakan karena sifat virus ini yang menyebar dari individu ke individu.

Secara tidak langsung, kita harus melaksanakan salat Tarawih di rumah masing-masing sesuai dengan imbauan yang disampaikan akhir-akhir ini.

Tetapi, jangan khawatir, Tim VIVA sudah merangkum berikut tata cara salat Tarawih di rumah demi mendukung imbauan pemerintah ini yang diolah dari berbagai sumber.

Hukum
Mengutip sumber dari kitab Fathul Qarib yang dikarang oleh Imam Syaikh Muhammad Ibn Qosim Al-Ghozi dalam penjelasannya di Fasal Syarat Wajib Sholat Hukum salat Tarawih sendiri dalam hukum fiqh adalah Sunnah Muakkad artinya sunnah yang ditekankan.

1.Niat, Tata Cara dan Bacaan
Sholat Tarawih sendiri bisa dikerjakan dengan jumlah rakaat 10 dan 20 rakaat serta niat dan di akhiri salam. Begitupun di tambah dengan salat witir 3 rakaat setelah salat Tarawih.

Dikutip dari laman islami.co, niat yang sebagaimana biasa dimulai sebelum salat tarawih adalah sebagai berikut.

“Ushalli sunnatat tarawihi rok’ataini mau’muman/imaman lillahi ta’ala”

“Aku niat salat Tarawih dua rakaat dengan menjadi makmum/imam karena Allah Ta’ala.”

Salat Tarawih umumnya seperti salat sunnah biasa. Dikerjakan setiap dua rakaat lalu salam. Pada rakaat pertama membaca surah Al-Fatihah setelahnya dilanjut dengan surat-surat pendek dari At-Takatsur hingga Al-Lahab. Bacaan surat pendeknya pun bisa dibaca dengan bergantian, berurut atau tidak.

Di rakaat kedua seperti biasa diawali dengan surat Al-Fatihah kembali dan disambung dengan surat Al-Ikhlas. Itu semua berlaku dari malam pertama Ramadhan sampai lima belas kemudian malam lima belas sampai akhir membaca surat Al-Qadr.

Ketika selesai mengerjakan 8 rakaat atau 20 rakaat, ada doa yang dibaca sesudahnya yaitu adalah doa kamilin.

“Allahummaj’alna bilimani kamilin, wa lil Faraidi Muaddin, walis shalati hafidzin, wa lizzakati fa’ilin, wa lima indaka thalibin, wa li afwika rajiin, wa bil huda mutamassikin, wa ‘anil laghwi mu’ridhi, wa fid dunya zahidin, wa fil akhirati raghibin, wabil qadhai radhiin, wa lin na’mai syakirin,

wa ‘alal bala’ shabirin, wa tahta liwai sayyidina muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yaumal qiyamati sa’irin, wa ilal haudi waridin, wa ilal jannati dahilin, wa minan nari naajiin, wa ‘ala sariril karamati qa’idin,

wa min khurin ‘inin mutazawwijin, wa min sundusin wa istabraqin, wa dibaajin mutalabbisin, wa min tha’amil jannati akilin, wa min labanin wa’asalin mushaffaini syaribin, bi akwabin wa abariqa wa ka’sin min ma’in, ma’al ladzina an’amta alaihim minan nabiyyina was shiddiqiina was syuhada’i was sholihin, wa hasuna ula’ika rafiqaa, dzalikal fadhlu minallahi. Wa kafa billahi ‘alima.

Allahummaj’alna fi hadzas syahri syarifatil mubarakati minas su’ada’il maqbulin. Wa laa taj’alna minal azkiya’il marduudin. Wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin, wa ‘aalihi wa sahbihi ajma’in. birahmatika ya arhamar rahimin.”

“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang melaksanakan kewajiban- kewajiban terhadap-Mu, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan ketentuan, yang bersyukur atas nikmat yang diberikan, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, sampai kepada telaga (yakni telaga Nabi Muhammad) yang masuk ke dalam surga, yang duduk di atas dipan kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra, yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Amin.” []

(Sumber | VIVA.CO.ID)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed